Agus Suprihono dan Nafas Panjang Wayang Wong Thengul
- Jan 07, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di sebuah sanggar sederhana di Padukuhan Seyegan, Margokaton, Sleman, suara gamelan kadang terdengar lirih, kadang menghentak penuh semangat. Di tempat itulah Agus Suprihono menghabiskan sebagian besar hidupnya, menjaga agar satu kesenian tua bernama wayang wong thengul tetap bernapas di tengah perubahan zaman.
“Sekarang ini yang membuat saya paling prihatin adalah anak-anak muda sudah mulai jauh dari seni tradisi. Mereka lebih kenal tokoh di layar ponsel daripada tokoh-tokoh dalam wayang,” ujar Agus saat ditemui di Sanggar Seni Budaya MATON, Rabu (7/1/2026).
Wayang wong thengul merupakan transformasi dari wayang golek menak, dengan cerita yang bersumber dari Serat Menak karya Yosodipuro II. Kisah kepahlawanan Amir Hamzah menjadi inti pertunjukan yang sarat nilai moral dan spiritual. Namun Agus menyadari, mempertahankan tradisi tidak cukup hanya dengan mengulang bentuk lama.
“Kalau ceritanya tidak kita dekatkan dengan kehidupan sekarang, penonton akan pergi. Tapi nilai-nilai Jawanya tidak boleh hilang, itu harga mati,” tegasnya.
Dari kegelisahan itulah lahir Sanggar Seni Budaya MATON, sebuah ruang pembinaan kesenian tradisional yang menaungi jathilan, kethoprak, sholawat pitutur, serta dalang dalang, termasuk wayang wong thengul. Di sanggar ini, anak-anak hingga orang dewasa belajar tidak hanya teknik, tetapi juga etika dan makna.
“Saya ingin Sanggar Seni Budaya MATON ini menjadi rumah budaya. Siapa pun boleh belajar, asal mau serius dan menghormati tradisi,” kata Agus.
Perjalanan panjang tersebut mendapat pengakuan nasional ketika pada Desember 2020, wayang wong thengul dari DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Meski demikian, bagi Agus pengakuan itu bukan akhir perjuangan.
“Sertifikat itu bukan untuk dipajang. Itu justru pengingat bahwa tanggung jawab kita makin besar untuk menjaga dan menghidupkannya,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai pelaku seni pertunjukan, Agus Suprihono juga merupakan sastrawan Jawa. Novel berbahasa Jawa Hera Heru (1998) dan Pepati (2021) lahir dari kepekaannya membaca realitas sosial. Karya-karya tersebut bahkan menjadi bahan skripsi mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Surakarta.
“Menulis dan pentas itu sama saja bagi saya. Dua-duanya cara untuk menyampaikan nilai dan membangun kesadaran budaya,” tuturnya.
Atas dedikasinya selama 40 tahun di bidang kesastraan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan penghargaan pada September 2025. Selanjutnya, Desember 2025, Bupati Sleman menganugerahkan piagam penghargaan sebagai pelestari dan pelaku kebudayaan wayang wong thengul.
Namun di balik deretan penghargaan, kegelisahan Agus tetap sederhana: keberlanjutan.
“Kalau tidak ada generasi penerus, semua ini hanya akan jadi cerita. Saya ingin anak-anak muda bangga, bukan sekadar tahu bahwa ini warisan,” katanya lirih.
Di Sanggar Seni Budaya MATON, harapan itu terus dirawat. Di antara bunyi gamelan dan gerak para penari, Agus Suprihono percaya bahwa seni tradisi akan tetap hidup, selama masih ada orang yang setia menjaganya dan generasi muda yang mau belajar mencintainya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)