Batik Sri Huning Margodadi Bertahan Dengan Identitas Wilayah Di Tengah Tantangan Pasar

  • Jan 23, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Batik Sri Huning Margodadi terus berjuang mempertahankan eksistensinya sebagai produk budaya sekaligus UMKM lokal dengan mengandalkan ciri khas wilayah. Di tengah gempuran batik printing dan selera pasar yang cenderung praktis, para pengrajin Batik Sri Huning memilih bertahan dengan identitas motif lokal sebagai kekuatan utama.
Batik yang berasal dari Kalurahan Margodadi ini telah melalui perjalanan panjang selama lebih dari dua dasawarsa. Awalnya dikenal dengan nama Batik Sekar Dadi, kemudian berubah menjadi Batik Sri Tanjung, hingga akhirnya menetap dengan nama Sri Huning. Pergantian nama tersebut menjadi bagian dari dinamika usaha sekaligus upaya mencari bentuk identitas yang paling merepresentasikan wilayah Margodadi.


Motif gunung-gunung, Tuk Si Bedug, dan tobong menjadi ciri khas Batik Sri Huning. Motif tersebut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga merepresentasikan lanskap alam dan aktivitas masyarakat setempat. 
“Kami ingin batik ini kalau dilihat orang langsung ingat Margodadi, bukan sekadar kain bermotif,” ujar Purnamawati, Koordinator Batik Sri Huning yang ditemui dirumahnya yang dijadikan juga sebagai rumah produksi pada hari Kamis (22/1/2026).
Titik balik perkembangan Batik Margodadi terjadi pada tahun 2024, saat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menyelenggarakan pelatihan batik yang didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais). Sebanyak 20 pengrajin mengikuti pelatihan tersebut, yang menjadi momentum kebangkitan produksi dan semangat kolektif pengrajin.
“Pelatihan itu seperti memberi napas baru. Kami jadi lebih percaya diri, baik dari segi teknik maupun semangat untuk terus produksi,” kata Purnamawati.


Saat ditemui di rumahnya di Padukuhan Beran RT 3 RW 2, Kalurahan Margodadi, Purnamawati menjelaskan bahwa proses produksi batik dilakukan berdasarkan pesanan. Meski demikian, para pengrajin tetap mengadakan pertemuan rutin setiap hari Rabu untuk menjaga koordinasi dan keberlanjutan kelompok.
Produk Batik Sri Huning saat ini dapat dijumpai di Outlet Dekranasda serta Rumah Jadah Tempe di Jalan Kaliurang. Pada tahun 2025, Batik Sri Huning melalui Asosiasi Pengrajin Batik Sleman “Mukti Manunggal” mendapat kepercayaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman untuk memproduksi 81 potong seragam kantor.


Namun demikian, persoalan pemasaran masih menjadi tantangan utama. Batik tulis buatan rumahan kerap dinilai mahal oleh konsumen karena sering dibandingkan dengan batik printing. 
“Masyarakat sering melihat harga dulu tanpa tahu prosesnya. Batik tulis itu dikerjakan berhari-hari, bukan dicetak mesin,” tutur Purnamawati.
Kondisi tersebut juga membuat Batik Sri Huning kini menggunakan pewarna alami hanya jika ada pesanan khusus, sementara produksi reguler memakai pewarna sintetis. Meski bahan pewarna alami lebih murah, waktu pengerjaan yang lebih lama membuat biaya jasa pengrajin meningkat sehingga harga jual pun menjadi lebih tinggi.
Pada masa awal, Batik Sekar Dadi justru dikenal sebagai batik dengan pewarna alami. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari jolawe, kayu mahoni, dan daun jati, dengan tawas dan kapur sebagai pengunci warna. Namun rendahnya permintaan pasar membuat para pengrajin harus beradaptasi.


“Kalau pewarna alami tidak ada yang pesan, ya tidak bisa diproduksi terus. Kami harus menyesuaikan supaya usaha tetap jalan,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar, Batik Sri Huning aktif mengikuti berbagai pameran UMKM, mulai dari gebyar UMKM tingkat kalurahan, bazar tingkat kapanewon, hingga pameran tingkat kabupaten seperti di Teras Dekranasda dan Sleman City Hall (SCH).
“Walaupun yang terjual tidak banyak, ikut pameran itu penting. Paling tidak masyarakat tahu bahwa Batik Margodadi masih ada dan masih berjuang,” pungkas Purnamawati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)