Belajar Mengolah Sabut Kelapa dari Hulu ke Hilir di Plandi's Craft Creative
- Jan 24, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Plandi’s Craft Creative dikenal sebagai rumah sabut kelapa yang mengolah limbah kelapa dari hulu hingga hilir. Berbasis di wilayah Sonoharjo, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan Sleman, usaha yang dimiliki oleh Supriyono ini menjadikan limbah sabut kelapa sebagai produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Produk utama Plandi’s Craft Creative adalah mainan kucing serta pot bunga atau cocodama, yang hingga kini menjadi produk paling diminati konsumen. Cocodama produksi Plandi’s dikenal bersifat multi purpose karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan dekorasi, tempat alat tulis dan tanaman hias, baik ukuran kecil maupun besar.
Sebagai pengrajin sabut kelapa, Plandi’s Craft Creative dituntut untuk terus berinovasi dalam menciptakan kreasi berbahan dasar limbah kelapa. Ketersediaan bahan baku sabut kelapa selama ini masih dapat dipenuhi dari wilayah sekitar. Sementara itu, untuk bahan baku batok kelapa, Plandi’s mendatangkannya dari wilayah Kulon Progo yang dikenal sebagai sentra penghasil minyak kelapa.
Dalam proses produksinya, Plandi’s Craft Creative juga menjalin kemitraan dengan Oesaka (Omah Sabut Kelapa) sebagai pemasok tali sabut kelapa dan coco fiber. Meski memiliki banyak reseller yang memasarkan produknya, pot bunga atau cocodama tetap menjadi produk unggulan dan best seller.

Supriyono menjalankan usaha ini dengan dibantu tiga orang karyawan. Bersama tim kecilnya, ia mampu memenuhi kebutuhan pesanan dari berbagai rekanan. Perjalanan usaha ini tidak selalu mudah. Ia mengungkapkan bahwa pada awal merintis, masyarakat sekitar sempat meremehkan usaha yang digelutinya.
“Dulu banyak yang meremehkan usaha sabut kelapa ini, dianggap tidak menjanjikan. Tapi saya yakin kalau limbah itu dikelola dengan benar, pasti punya nilai,” ujar Supriyono di rumahnya Sonoharjo RT 5 RW 23 Margokaton.
Keunikan lain dari Plandi’s Craft Creative adalah keterbukaannya terhadap kehadiran mahasiswa KKN dari berbagai perguruan tinggi seperti UMY, UJB, UII, dan UGM. Menurut Supriyono, mahasiswa banyak membantu dalam pengelolaan rumah produksi.
“Kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu saya, mulai dari pemasaran, pembukuan, sampai pembuatan aplikasi Belanja Desa. Banyak ilmu baru yang saya dapat dari mereka,” kata Supriyono yang ditemui pada hari Jum'at (23/1/2026).
Kolaborasi tersebut juga mendorong pemanfaatan limbah kelapa secara lebih maksimal. Dari mahasiswa UMY yang melakukan penelitian, Supriyono belajar memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO) dari daging kelapa dengan merek Omah Kelapa. Selain itu, air kelapa difermentasi menggunakan molase dan EM4 untuk dijadikan Pupuk Organik Cair (POC). Sebelumnya, limbah daging kelapa hanya dimanfaatkan menjadi kopra.
Hingga kini, di wilayah Sonoharjo dan sekitarnya, Supriyono menjadi satu-satunya pengrajin limbah sabut kelapa. Dengan pengalaman dan kreativitas yang dimiliki, ia beberapa kali dipercaya menjadi narasumber pelatihan pembuatan cocodama di Kalimantan Timur, Bantul, dan Purworejo.
Ke depan, Supriyono berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk pengembangan usahanya.
“Harapan saya ke depan ada perhatian dari pemerintah, terutama bantuan mesin pencacah sabut kelapa supaya kami bisa memproduksi coco fiber dan cocopeat sendiri,” ungkap Supriyono. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).