Cerobong Sunyi di Beran, Saksi Bisu 1965
- Mar 02, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Cerobong asap tobong genting di Padukuhan Beran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan masih berdiri tegak setinggi kurang lebih 12 meter di tepi jalan kampung. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan penanda sebuah masa ketika wilayah itu pernah menjadi sentra produksi genting yang maju pada zamannya, sekaligus saksi perubahan besar setelah peristiwa Gerakan 30 September.
Usaha genting tersebut dirintis pada 1964 oleh seorang perantau Tionghoa bernama Koh Ting. Dua unit tobong dibangun dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 genting sekali bakar dan dioperasikan secara bergantian. Proses pembakarannya tergolong modern. Tidak menggunakan kayu bakar, melainkan kompor yang menyemprotkan residu solar, sehingga tidak meninggalkan abu sisa pembakaran.
“Pembakarannya tidak pakai kayu, tapi pakai kompor yang menyemprotkan residu solar. Jadi tidak ada abu,” kenang Beni Sujendro, mantan carik Margodadi yang ditemui dirumahnya yang asri pada hari Minggu (1/3/2026).

Sekitar sepuluh hingga dua belas pekerja—sebagian besar berasal dari Kebumen yang dikenal dengan kualitas genting Soka—mengoperasikan mesin pembuat genting yang saat itu sudah cukup maju. Dengan bahan baku tanah liat dari wilayah Beran sendiri, produksi berjalan lancar dan menghasilkan genting pres kodok yang terkenal bermutu.
Bagi Beni, cerobong itu bukan sekadar bagian dari sejarah industri kecil. Rumahnya hanya berjarak belasan meter dari lokasi tobong, bahkan berdiri di atas tanah milik kakeknya. Laki-laki kelahiran 1958 itu masih menyimpan ingatan masa kecilnya.
“Waktu kecil saya sering main di situ. Bahkan masuk ke bangunan cerobong yang belum jadi bersama teman-teman,” tuturnya.
Namun suasana berubah ketika pecah peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965. Operasional tobong berhenti. Asap yang biasanya mengepul tak lagi terlihat. Aktivitas di sekitar bangunan pun bergeser.
“Setelah peristiwa itu, tobong tidak beroperasi lagi. Yang ada justru kegiatan kesenian seperti kethoprak di sekitar situ,” kata Beni.
Pertunjukan tersebut, menurut ingatan sebagian warga, kerap dimanfaatkan sebagai sarana propaganda politik pada masa itu. Beni kecil menjadi salah satu penonton yang menikmati pertunjukan, tanpa sepenuhnya memahami situasi sosial-politik yang tengah bergolak.
Kini, cerobong itu masih berdiri kokoh, meski tak lagi berfungsi. Rumpun bambu dan semak perdu tumbuh mengelilinginya. Yang tersisa adalah tulisan yang terpatri di bagian bawah : genting SK dan tahun pembuatannya. Tak ada lagi pekerja, tak ada lagi mesin yang berdengung, dan tak ada lagi asap yang mengepul. Yang tersisa hanyalah bangunan menjulang dan serpihan kenangan.

“Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Hanya cerobongnya saja yang masih berdiri,” ujar Beni pelan.
Cerobong sunyi itu menjadi saksi bisu—tentang geliat industri rakyat, tentang gejolak sejarah, dan tentang masa kecil seorang anak yang tumbuh bersama perubahan zaman. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)