Dari Putus Sekolah ke Penuh Harapan, Kiprah PKBM Saka Seyegan Membangun Masa Depan

  • May 05, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Di tengah tantangan pendidikan nonformal, PKBM SAKA Seyegan hadir sebagai ruang kedua bagi mereka yang sempat terhenti langkahnya. Berdiri sejak 2020 dan bernaung di bawah Yayasan Tri Saka, lembaga ini menjadi jembatan bagi anak putus sekolah, siswa pindahan, hingga orang dewasa untuk kembali meraih pendidikan melalui Paket B dan Paket C.

Berlokasi di Jamblangan, Margomulyo, Sleman, PKBM ini tak sekadar mengajarkan materi akademik. Dengan pendekatan pendidikan karakter, keterampilan hidup, dan semangat kepramukaan, mereka membentuk warga belajar yang lebih siap menghadapi kehidupan nyata. Kegiatan seperti MPLS, edukasi kesehatan, hingga sosialisasi anti-narkoba bersama BNN menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Perjalanan PKBM SAKA tentu tidak mudah. Berawal dari data 41 anak putus sekolah, lembaga ini memulai langkahnya dengan hanya 8 warga belajar. Kini, jumlah tersebut berkembang pesat hingga mencapai 85 peserta dengan dukungan 12 tutor. Warga belajar pun berasal dari berbagai latar belakang—mulai dari tukang parkir, penjual cilok, hingga ibu rumah tangga—yang memiliki semangat sama untuk melanjutkan pendidikan.

Menariknya, jangkauan PKBM SAKA tidak hanya dari wilayah Seyegan saja, tetapi juga dari Gamping, Kulon Progo, hingga luar daerah seperti Jawa Tengah, meliputi Ngluwar (Magelang) dan Muntilan. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran PKBM SAKA semakin dikenal dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Pembelajaran dilakukan secara fleksibel—mulai dari metode teritorial (online), tugas mandiri, hingga tatap muka. Khusus untuk tatap muka, kegiatan dilaksanakan rutin setiap hari Jum’at pukul 18.30–20.30, menyesuaikan dengan aktivitas para warga belajar yang sebagian sudah bekerja.

Selain mengandalkan semangat relawan, PKBM SAKA juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Kerja sama melalui program CSR bersama PDAM dan BRI turut mendukung keberlanjutan kegiatan. Tak hanya itu, PKBM SAKA juga telah melakukan MOU dengan Puskesmas Seyegan, Damkar, dan BNN Kabupaten dalam rangka memperkuat edukasi kesehatan, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan narkoba.

Hermawan Triyono, SE, salah satu penggerak PKBM, mengungkapkan semangat yang melandasi berdirinya lembaga ini:

“PKBM SAKA ini berdirinya dimotori oleh semangat relawan untuk memberikan solusi pendidikan bagi mereka yang terputus dari sekolah.”
Ia juga menekankan pentingnya peran komunitas:

“Kegiatan PKBM dibangun dengan keswadayaan yang tinggi dari relawan bertiga, sebagai bentuk sumbangsih yang tidak ternilai.”

Tentang pengembangan jaringan, ia menambahkan:

“Setapak demi setapak PKBM SAKA menjajagi kerjasama dengan pihak luar, termasuk melalui program CSR PDAM dan BRI.”

Dukungan pemerintah pun mulai hadir dalam perjalanan mereka:

“Mulai tahun 2024, PKBM telah mendapat dana BOS pertama kali untuk mendukung kegiatan pembelajaran.”

Meski terus berkembang, PKBM SAKA masih menghadapi tantangan, terutama terkait fasilitas:

“Kendala utama kami adalah belum adanya gedung pembelajaran yang representatif.”

Namun di balik keterbatasan itu, semangat untuk membangun masa depan tetap menyala:

“Dengan bekal pembelajaran di PKBM ini, harapannya warga belajar mempunyai kepercayaan diri untuk menatap masa depannya.”

Ke depan, PKBM SAKA berkomitmen untuk terus berkembang menjadi lembaga yang inklusif:

“Kedepannya PKBM SAKA juga akan membuka Kejar Paket A dan menjadi PKBM yang inklusif.”

Dengan semangat gotong royong, kolaborasi, dan kepedulian sosial, PKBM SAKA Seyegan membuktikan bahwa pendidikan selalu punya jalan, bahkan menjangkau lintas wilayah, bagi siapa pun yang ingin kembali melangkah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)