Dhe Kecuk, Pengrajin Gamelan yang Bertahan di Ttengah Bingar Musik Modern
- Feb 03, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di tengah derasnya arus musik modern, profesi pengrajin gamelan kian langka. Dibutuhkan uluran tangan banyak pihak, termasuk pemerintah, agar warisan musik tradisional ini tetap lestari. Supoyo (59), yang lebih dikenal dengan nama Dhe Kecuk, bersama sang istri Sarjiatun, menjadi contoh nyata seniman tradisi yang terus berikhtiar mempertahankan profesi sebagai pembuat gamelan.
Ditemui di rumahnya di Dusun Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, suasana sederhana langsung terasa. Rumah itu menjadi saksi perjuangan Dhe Kecuk dalam menyalurkan keahliannya sebagai empu pembuat gamelan yang namanya cukup dikenal. Seperangkat gamelan yang tak lengkap menghiasi ruang tamu yang sekaligus difungsikan sebagai bengkel kerja. Besi plat, alat las, palu, dan berbagai peralatan lain menjadi bukti kegigihan Dhe Kecuk menekuni profesinya.
“Rumah ini ya sekaligus tempat kerja saya. Apa adanya, yang penting bisa terus bikin gamelan,” ujar Dhe Kecuk sambil menunjukkan seperangkat alat kerjanya.
Supoyo mulai mengenal dunia pembuatan gamelan sejak tahun 1990, saat bekerja sebagai tukang las di tempat pengrajin gamelan di wilayah Banyuraden. Pengalaman puluhan tahun itulah yang kemudian menjadi modal berharga. Pada tahun 2012, Supoyo dan istrinya akhirnya mampu mewujudkan cita-cita untuk berdikari sebagai pengrajin gamelan mandiri.
Perjalanan tersebut tentu tidak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah mempelajari titi laras agar gamelan terdengar enak didengar. Mengandalkan kepekaan perasaan dan pendengaran, Supoyo belajar secara otodidak melaraskan gamelan.
“Melaras gamelan itu tidak bisa pakai rumus. Harus pakai rasa dan telinga. Salah sedikit, nadanya bisa mati,” ungkap Supoyo yang lulusan STM jurusan Bangunan tersebut.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Ia kini dikenal sebagai ahli laras, dan pesanan gamelan pun datang dari berbagai daerah. Meski tidak secara khusus memproduksi gamelan untuk mengiringi kesenian jathilan, dalam perkembangannya Dhe Kecuk justru banyak menerima pesanan untuk kebutuhan pertunjukan tersebut.
Bahan yang digunakan pun menyesuaikan permintaan pemesan, mulai dari besi, kuningan, perunggu, hingga bahan “per” dari kendaraan truk. Untuk satu set gamelan, ia bisa membutuhkan hingga 150 kilogram bahan per. Menurut Dhe Kecuk, bagian paling penting sekaligus paling sulit dalam pembuatan gamelan adalah menentukan titik laras. Kepekaan telinga dan rasa menjadi kunci utama. Pengalaman bertahun-tahun inilah yang menempa dirinya menjadi ahli. Tak sedikit orang datang kepadanya untuk memperbaiki laras gamelan yang rusak atau berubah.
Karya-karya Dhe Kecuk telah tersebar di berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa, seperti Sumatra, Sulawesi, hingga Papua. Salah satu karya monumentalnya adalah sebuah gong berdiameter tiga meter yang kini terpasang di sebuah gedung kesenian di Belanda.
Secara teknis, Dhe Kecuk mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam proses pembuatan gamelan. Bahan relatif mudah didapat, dan peralatan kerja sebagian besar dimodifikasi sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, menurunnya kebutuhan akan gamelan menjadi keprihatinan tersendiri. Upaya mewariskan semangat nguri-uri gamelan kepada anak dan menantu bukanlah perkara mudah.
“Sekarang yang berat itu bukan bikin gamelannya, tapi bagaimana supaya gamelan masih dibutuhkan dan bisa menghidupi pembuatnya,” tuturnya lirih.
Totalitas Dhe Kecuk dalam menghidupkan seni dan budaya tradisional seharusnya diimbangi dengan penghidupan yang layak. Tanpa itu, profesi pengrajin gamelan yang kian langka akan semakin tergerus oleh gempuran musik modern. Dhe Kecuk tidak sendiri, banyak pelaku seni tradisional lain yang tetap bertahan dengan karya mereka, meski harus terpinggirkan oleh pertunjukan yang jauh dari nilai-nilai budaya.
Seni tradisional memang harus tetap hidup. Namun lebih dari itu, seni juga harus mampu menghidupi para pelakunya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)