Emping Mlinjo "Sari Murni" Jumeneng, Oleh-oleh Khas yang Telah Menembus Mancanegara
- Jan 23, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Berbicara tentang emping mlinjo, nama Jumeneng seolah tak bisa dipisahkan. Padukuhan yang berada di wilayah Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman Barat ini sejak lama dikenal sebagai sentra emping mlinjo berkualitas. Meski jumlah perajin kini tak sebanyak dulu, kualitas emping mlinjo Jumeneng tetap terjaga dan diakui hingga menjadi buah tangan yang pantas ke manca negara.
Saat ini, hanya tersisa lima perajin emping mlinjo yang masih bertahan. Tiga berada di Padukuhan Jumeneng, satu di Karang Dalem, dan satu lainnya di Mrincingan. Salah satunya adalah Sudarmi, perajin emping mlinjo yang telah menekuni usaha ini selama kurang lebih 30 tahun.
“Emping mlinjo Jumeneng itu sudah dikenal sejak dulu karena tipis, halus, dan rasanya enak. Itu yang selalu saya jaga sampai sekarang,” tutur Sudarmi saat ditemui di rumah produksinya pada hari Rabu (21/1/2026).
Pengalaman panjang membuat Sudarmi paham betul pentingnya menjaga kualitas. Dari perajin, kini ia juga berperan sebagai pengepul emping mlinjo. Ada 8 orang pengrajin yang bermitra dengan Sudarmi sebagai pengepul. Dengan dibantu tiga orang karyawan, ia memproduksi emping mlinjo dengan merek Sari Murni yang menghadirkan beragam varian rasa, seperti original, pedas manis, manis, dan asin.
“Sekarang konsumen suka yang bervariasi, jadi tidak hanya original saja. Tapi bahan dan prosesnya tetap sama,” jelas Sudarmi yang menjalankan usahanya secara turun temurun.
Produk emping mlinjo Sari Murni telah dilengkapi dengan Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, serta label halal, sehingga aman dipasarkan secara luas. Ukuran empingnya pun beragam, tergantung jumlah biji mlinjo yang digunakan, mulai dari ukuran 1, 3, 5, 7, hingga 10.
Dalam proses produksi, Sudarmi masih mempertahankan cara tradisional. Ia menggunakan talenan dari kayu kelapa (blabak) dan gandik batu sebagai alat penumbuk.
“Alatnya masih manual seperti dulu. Justru dari situ emping bisa tipis dan halus,” ujarnya.
Bahan baku mlinjo diperoleh dari wilayah Sleman dan Godean. Menurut Sudarmi, kualitas mlinjo sangat menentukan hasil akhir emping.
“Kalau mlinjonya bagus, empingnya bisa masuk grade A. Kalau kurang bagus ya grade B. Jadi pemilihan bahan itu penting sekali,” katanya.
Dengan proses pengeringan yang baik, emping mlinjo Sari Murni dapat bertahan hingga enam bulan, bahkan bisa mencapai satu tahun bila pengeringan dilakukan secara maksimal. Produk ini juga rutin mengikuti berbagai pameran sebagai produk unggulan daerah, baik di Jakarta, Bantul, maupun Sleman.
Berkat konsistensi kualitasnya, Sudarmi pernah menerima hibah oven pengering untuk mendukung proses produksi. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama saat musim hujan.
“Kalau musim hujan itu pengeringan tidak bisa maksimal. Pengaruhnya ke daya tahan emping,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, emping mlinjo Sari Murni tetap diminati pasar. Selain dipasarkan di wilayah Sleman dan sekitarnya, produk ini juga telah merambah kawasan Kedu, Jawa Tengah. Sebagai oleh-oleh, emping mlinjo Sari Murni pernah dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta, Kalimantan, Lampung, Bogor, dan Bali.
Bahkan, emping mlinjo khas Jumeneng ini telah dibawa wisatawan hingga ke Singapura, Belanda, Amerika Serikat, dan Australia.
“Saya tidak menyangka emping dari dusun kecil seperti Jumeneng bisa sampai ke luar negeri. Yang penting bagi saya, kualitas tetap dijaga,” pungkas Sudarmi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)