Hidram Pump, Solusi Mandiri Mengalirkan Air Tanpa Listrik dan BBM di Seyegan
- Jan 28, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di balik rumah sederhana di RT 06/23 Sonoharjo, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, mengalir sebuah gagasan besar tentang kemandirian air. Dari mata air yang berada lebih rendah, Supriyono berhasil menaikkan air ke permukiman dan kolam ikan tanpa listrik, tanpa bahan bakar, hanya mengandalkan hukum alam.
Teknologi itu bernama pompa hidram (Hidram Pump). Sebuah alat sederhana yang bekerja memanfaatkan energi potensial air dan tekanan hentakan hidrolik (water hammer). Ketertarikan Supriyono terhadap pompa hidram berangkat dari kebutuhan nyata. Kolam ikan yang dikelolanya dan kolam milik warga berada di atas sumber mata air, sementara biaya untuk pompa listrik terbilang mahal dan tidak ramah lingkungan.
“Saya melihat potensi mata air di belakang rumah, tapi letaknya lebih rendah dari kolam ikan warga. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya air bisa naik dengan biaya semurah mungkin,” tutur Supriyono.
Pencarian solusi itu dimulai sejak tahun 2008. Bertahun-tahun mencoba, merakit, dan memperbaiki, hingga akhirnya pompa hidram benar-benar bisa diandalkan. Kini, di wilayah Kapanewon Seyegan sudah terdapat empat titik pompa hidram yang aktif, masing-masing berada di Padukuhan Sonoharjo, Grajegan, dan Somokaton, ketiga Padukuhan yang ada di wilayah Kalurahan Margokaton.
Saat ditemui di lokasi pompa, Selasa (27/1/2026), Supriyono menjelaskan bahwa sistem ini memerlukan bak penenang. Fungsinya untuk menstabilkan aliran air sebelum masuk ke pipa pompa, sekaligus menyaring sampah agar tekanan air tetap optimal.
“Kalau airnya beriak atau banyak gelembung udara, tekanan jadi turun. Bak penenang ini penting supaya kerja pompa maksimal,” jelas Supriyono yang sering menjadi Nara sumber berkaitan dengan pemanfaatan air dengan Hidram Pump ini.
Meski tergolong teknologi tepat guna, pompa hidram tidak lepas dari tantangan. Pada musim kemarau, debit air yang mengecil menjadi kendala utama. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke badan air dan masuknya siput atau keong ke dalam klep pompa kerap mengganggu kinerja alat.
Namun keterbatasan itu tidak memadamkan harapan. Supriyono justru melihat peluang besar ke depan. Ia berharap pompa hidram ini mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak, terutama karena wilayah Seyegan kerap menjadi lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.
“Saya berharap suatu saat pompa hidram ini bisa jadi obyek penelitian, supaya ada masukan untuk pengembangannya,” ujarnya.
Lebih jauh, Supriyono telah merancang mimpi lanjutan: memanfaatkan air yang sudah dipompa ke atas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) skala kecil. Meski sederhana, ia berharap proyek tersebut dapat menjadi prototipe pemanfaatan energi air yang berkelanjutan.
Di tengah tantangan krisis air dan energi, pompa hidram di Sonoharjo menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar. Kadang, ia tumbuh dari halaman rumah, dari kegigihan seseorang yang memilih berdamai dengan alam dan memanfaatkannya dengan bijak. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)