Jasa Pengumpul Sampah, Peran Penting Dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

  • Jan 20, 2026
  • KIM'

SEYEGAN - Keberadaan jasa pengumpul sampah memiliki peran strategis dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan. Di wilayah Kapanewon Seyegan dan sekitarnya, nama PMA Transport tak bisa dilepaskan dari layanan pengambilan sampah rumah tangga, toko, hingga kantor dan instansi. Artinya PMA Transport sudah eksis sebagai Pilar Pengelolaan Sampah di Sleman Barat. 
Dengan jumlah sekitar 1.000 pelanggan yang tersebar di Kapanewon Mlati, Seyegan, dan Depok, PMA Transport telah menjadi penyedia jasa pengelolaan sampah yang dikenal luas. Usaha ini dirintis oleh Sutrisno, pendiri sekaligus pemilik PMA Transport, sejak tahun 2005.


Menurut Sutrisno, bisnis pengelolaan sampah tidak akan pernah mati. 
“Sampah, terutama sampah rumah tangga, akan selalu ada. Selama tidak dikelola dengan baik, ia akan menjadi masalah. Di situlah jasa pengambilan sampah akan selalu dibutuhkan,” ujar Sutrisno yang ditemui dirumahnya pada hari Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, keterbatasan umur teknis TPA, semakin menyempitnya lahan, serta terus meningkatnya volume sampah menjadikan peran jasa pengelola sampah sebagai mata rantai penting dalam siklus pengelolaan sampah terpadu, mulai dari sumber sampah hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dalam menjalankan bisnis jasa layanan pengelolaan sampah, Sutrisno menyebut setidaknya ada lima hal yang harus dipenuhi, yakni niat, armada, pelanggan, karyawan, dan rumah pilah sampah. Saat ini, PMA Transport mengoperasikan dua truk, satu kendaraan pick up, serta didukung oleh enam karyawan.


Penutupan TPA Piyungan beberapa tahun lalu justru menjadi momentum bagi Sutrisno untuk berinovasi. Ia membangun tungku pembakaran untuk mengelola sampah kering yang tidak memiliki nilai jual. Tungku tersebut dirancang dengan tetap mengedepankan prinsip ramah lingkungan.
“Pembakarannya menggunakan sistem kondensasi sehingga asap yang dihasilkan sangat minim,” jelas Sutrisno. 
Tungku pembakaran yang mulai beroperasi sejak Juni 2023 itu terbukti sangat membantu operasional PMA Transport dalam menangani residu sampah.
Selain mengelola usahanya, Sutrisno juga dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Jasa Layanan Pengelola Sampah Kabupaten Sleman yang bernama Paguyuban Sleman Manunggal Roso. Paguyuban ini beranggotakan sekitar 25 penyedia jasa pengelolaan sampah. Namun hingga kini, ia menyayangkan belum adanya komunikasi atau pelibatan paguyuban secara resmi oleh pemerintah daerah.
“Padahal kami ini bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Kami bisa menjadi sumber data penting terkait jumlah sampah yang terkelola dalam satuan waktu,” ungkapnya.


Sutrisno berharap ke depan dapat terjalin kemitraan dengan pemerintah, termasuk dukungan dan fasilitasi alat pengolah sampah yang kerap menjadi kendala operasional di lapangan.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kepatuhan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pemilahan sampah di tingkat sumber, menurutnya, masih sebatas slogan dan lemah dalam implementasi. 
“Kalaupun dilakukan, biasanya hanya sesaat. Ini soal perubahan perilaku dan pola pikir,” katanya.


Dalam layanannya, PMA Transport mematok tarif jasa pengelolaan sampah mulai dari Rp 40.000 per bulan hingga Rp 500.000 per bulan, tergantung jenis dan volume sampah pelanggan.
Sutrisno optimistis, dengan komunikasi yang baik antara Paguyuban Sleman Manunggal Roso dan pemerintah, akan terbangun sinergi yang solid dalam pengelolaan sampah, khususnya yang berujung ke TPA. Di sisi lain, masyarakat sebagai produsen sampah diharapkan semakin termotivasi untuk menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan melakukan pemilahan sampah, sehingga volume sampah dapat ditekan.
Ia pun menaruh harapan besar agar wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang direncanakan pada tahun 2028 dapat benar-benar terwujud sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)