Jenang Lot dan Krasikan Bu Rokhimah Bertahan Ditengah Gempuran Kuliner Kekinian
- Jan 21, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di tengah maraknya kuliner kekinian, jenang lot dan krasikan buatan Rokhimah tetap bertahan dan memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat makanan tradisional. Lebih dari 20 tahun, warga Padukuhan Gerjen, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman ini setia menekuni usaha jenang lot dan krasikan, kuliner jadul yang kini kian jarang dijumpai.
Perjalanan Rokhimah menggeluti usaha ini bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Disperindag Kabupaten Sleman. Dari situlah ia mulai mengembangkan diri dan memberanikan diri menekuni usaha kuliner tradisional.
“Awalnya ikut pelatihan dari dinas, dari situ saya jadi tertarik dan mencoba serius menekuni jenang lot,” ujar Rokhimah.
Pada masa keemasannya, jenang lot begitu melekat dengan sosoknya. Menyebut jenang lot, warga sekitar langsung teringat “Rokhimah Gerjen”, merujuk pada padukuhan tempat tinggalnya. Sementara itu, jenang krasikan justru ia pelajari secara mandiri.
“Kalau jenang krasikan saya belajar sendiri, coba-coba sampai ketemu rasanya,” katanya.
Meski menggunakan bahan baku yang sama yaitu beras ketan, gula Jawa, dan kelapa, jenang lot dan krasikan memiliki perbedaan proses. Untuk jenang lot, beras ketan hanya direndam, sedangkan pada jenang krasikan, beras ketan direndam sekaligus disangrai.
“Bedanya di situ, proses sangrai itu yang bikin krasikan punya rasa dan aroma khas sedangkan pembuatannya pun lebih cepat yaitu 4 jam saja ,” jelasnya.
Ditemui di rumahnya pada Selasa (20/1/2026), Rokhimah mengungkapkan bahwa pembuatan jenang lot membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Kalau dihitung dari awal sampai matang, bisa sampai delapan jam,” ujarnya.
Selain bahan pokok, Rokhimah juga menerima pesanan dengan variasi rasa seperti nangka, sirsak, dan durian. Wijen pun kerap ditambahkan sesuai permintaan konsumen. Dalam seminggu, ia memproduksi jenang lot dan krasikan dua kali dengan total hasil setiap produksi sekitar 30 kilogram yang dikemas dalam potongan kecil.
Jenang buatannya dipasarkan di sekitar 20 toko dan warung di wilayah Seyegan dan Sleman, khususnya di Caturharjo. Berkat cita rasanya yang khas, Rokhimah juga mendapatkan berbagai dukungan alat produksi.
“Alhamdulillah, waktu ikut pameran saya dapat bantuan mesin pengaduk jenang dari STIEBANK Yogyakarta,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menerima bantuan alat penggiling beras ketan dari dana Pokir Dewan.
Prestasi Rokhimah cukup membanggakan. Ia rutin mengikuti bazar UMKM dan pameran potensi daerah dari tingkat kalurahan hingga kabupaten. Dalam lomba makanan tradisional, jenang buatannya beberapa kali meraih juara.
“Pernah juara satu tingkat kalurahan dan kapanewon, itu jadi penyemangat buat saya,” ungkapnya.
Pesanan jenang lot dan krasikan pun kerap datang untuk berbagai keperluan, mulai dari hantaran, suguhan acara, hingga oleh-oleh yang dikirim ke luar Pulau Jawa. Tanpa bahan pengawet, jenang buatannya mampu bertahan hingga 15–20 hari. Rokhimah juga menerima pesanan jadah dan wajik.
“Saya tidak pakai pengawet, jadi benar-benar mengandalkan proses dan bahan yang bagus,” katanya.
Meski tak semua orang menyukai jenang lot dan krasikan, Rokhimah tetap optimis kuliner tradisional ini akan terus bertahan.
“Sekarang anak muda juga banyak yang suka, itu yang bikin saya yakin jenang ini masih punya masa depan,” ujarnya optimis.
Hingga kini, Rokhimah masih memiliki kelompok pengrajin jenang yang beranggotakan empat orang. Harapannya sederhana, agar jenang lot dan krasikan tetap diminati masyarakat luas.
“Saya siap menularkan ilmu dan praktek langsung, seperti yang pernah saya lakukan dengan kelompok Desa Prima Margomulyo,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).