Jenang Upih Cibuk Kidul, Rasa Tradisi Diambang Kepunahan
- Apr 19, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di sudut Kalurahan Margoluwih, tepatnya di Padukuhan Cibuk Kidul, tersimpan sebuah warisan kuliner yang tak sekadar menggoda lidah, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang tradisi, ketekunan, dan ancaman kepunahan. Di tengah geliat modernisasi, Jenang Upih—atau yang juga dikenal sebagai Jenang Upeh—masih bertahan, meski pelestarinya kian menyusut.
Cibuk Kidul selama ini dikenal sebagai kawasan wisata mina padi. Namun, di balik itu, padukuhan ini menyimpan kekayaan kuliner yang nyaris tak tergantikan. Jenang Upih menjadi salah satu ikon yang unik, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena proses pembuatannya yang tidak biasa. Makanan ini hanya bisa dibuat menggunakan beras varietas tertentu, yakni PB 5—jenis padi yang kini semakin langka.

“Jenang Upih ini tidak bisa dibuat dari sembarang beras, harus PB 5. Kalau bukan itu, hasilnya tidak akan jadi,” ujar Rabikem, salah satu pengrajin terakhir yang masih setia menjaga tradisi ini.
Keunikan lain dari Jenang Upih terletak pada teknik memasaknya. Alih-alih menggunakan alat modern, adonan tepung beras dikukus dalam pelepah pinang. Tanpa pelepah tersebut, jenang tidak akan terbentuk sempurna. Proses ini memakan waktu hingga empat jam, lalu didiamkan semalaman agar mengeras.
“Pelepah pinang itu kunci. Kalau tidak pakai itu, bukan Jenang Upih namanya,” kata Rabikem sambil tersenyum.
Rabikem, wanita sepuh yang kini telah memiliki cicit, merupakan generasi kedua dalam garis panjang pembuat Jenang Upih. Setiap hari, rutinitasnya dimulai sejak pukul dua dini hari. Ia memotong jenang, menyiapkannya untuk dijual, lalu berangkat ke pasar sebelum matahari terbit.
“Jam setengah enam saya sudah berangkat ke pasar. Biasanya jam sembilan sudah habis,” tuturnya.
Di Pasar Bibis Gancahan, jenang buatannya dijajakan dengan harga yang sangat terjangkau, antara dua hingga lima ribu rupiah. Jenang ini biasanya disajikan bersama tempe bacem, tahu bacem, atau gembus bacem, dibungkus daun pisang yang menambah aroma khas tradisional.
Namun di balik ketekunannya, terselip kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Dulu, Cibuk Kidul memiliki sekitar 20 pengrajin Jenang Upih. Kini, jumlah itu menyusut drastis.
“Sekarang tinggal empat orang saja. Saya berharap anak saya mau meneruskan, supaya tidak hilang,” ungkap Rabikem dengan nada lirih.
Kelangkaan bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Beras PB 5 kini mulai sulit ditemukan, meski sebagian petani lokal mulai kembali menanamnya. Begitu pula dengan pelepah pinang, yang kini sengaja dibudidayakan oleh warga sekitar sungai demi menjaga keberlangsungan produksi jenang ini.
Menjelang senja, dapur sederhana milik Rabikem masih hangat oleh sisa-sisa aktivitas pagi. Di sanalah, di antara pelepah pinang dan adonan jenang, tersimpan semangat yang tak lekang oleh usia. Tangan keriputnya terus bergerak, seolah menolak tunduk pada zaman.
Jenang Upih bukan sekadar makanan. Ia adalah identitas, sejarah, dan warisan yang menggantungkan harapannya pada segelintir orang seperti Rabikem. Tanpa regenerasi, bukan tidak mungkin rasa khas dari Cibuk Kidul ini akan tinggal cerita. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)