Kampung Emas Krapyak IX Seyegan: Dari Desa Tertinggal Menuju Laboratorium Ilmiah dan Kampung Budaya
- Jan 19, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di Dusun Krapyak IX, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah inisiatif kolaboratif tumbuh menjadi model pengembangan desa berbasis pendidikan dan kebudayaan. Kampung Emas Krapyak IX, kini dikenal sebagai laboratorium ilmiah rintisan hasil kerja sama masyarakat dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kampung Emas ini diresmikan pada 23 Desember 2023 oleh Gubernur DIY. Peresmian tersebut menandai komitmen pemerintah daerah bahwa Kampung Emas bukan sekadar proyek sosial sesaat, melainkan model pendampingan desa berkelanjutan.
Ditemui di kediamannya pada Minggu (18/1/2026), Nur Laily Tri Wulansari, M.I.Kom, Koordinator Bidang Pendidikan Kampung Emas Krapyak IX, menjelaskan bahwa gagasan Kampung Emas lahir dari keprihatinan terhadap kondisi Desa Margoagung yang masuk kategori desa tertinggal.
“Ketimpangan pendidikan dan ekonomi masih terasa kuat. Karena itu desa ini perlu didampingi secara serius dan berkelanjutan,” ungkap Dosen Fisip UNY yang akrab dipanggil Sari ini.
Melalui program “UNY Bangun Desa / Kampung Emas”, UNY bersama masyarakat merancang pendekatan berbasis konsep 4K: Kantor, Kraton, Kampung, dan Kampus. Konsep ini menyatukan peran pemerintah, nilai budaya Keraton Yogyakarta, kekuatan masyarakat kampung, serta dukungan akademik perguruan tinggi.
Dalam proses perintisan, pelibatan warga menjadi prinsip utama. Sari menegaskan bahwa keberhasilan Kampung Emas tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat setempat.
“Sejak awal, masyarakat tidak kami posisikan sebagai objek program, tetapi sebagai subjek utama. Semua kegiatan Kampung Emas dirancang bersama warga, sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas keberlanjutannya,” ujar Sari yang sedang menempuh Program Doktoral tersebut.
Sejak awal, Pendidikan Berkah ditetapkan sebagai inti (core) Kampung Emas. Program ini dikoordinasikan oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNY, dengan dukungan lintas fakultas dan mitra.
Pembekalan pendidikan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri. UNY juga melibatkan mahasiswa melalui program study employment untuk mendampingi kegiatan yang menunjang keberlanjutan Kampung Emas.
Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi salah satu daya tarik utama dalam meningkatkan literasi dan pengetahuan warga, khususnya anak-anak dan remaja.
Untuk menggerakkan potensi desa secara menyeluruh, Kampung Emas Krapyak IX mengembangkan sembilan program unggulan yang dikenal sebagai 9 Program Berkah, yaitu:
1. Pendidikan Berkah – peningkatan literasi dan pendidikan nonformal.
2. Seni Berkah – pelatihan karawitan, tari, teater, dan kethoprak.
3. Olahraga Berkah – pengembangan olahraga masyarakat seperti panahan dan outbound.
4. Kuliner Berkah – inovasi kuliner lokal, termasuk pemanfaatan ampas tahu.
5. Tahu Berkah – penguatan industri tahu sebagai produk unggulan sekaligus pengelolaan limbahnya.
6. Sayur & Buah Tani Berkah – pengembangan pertanian sayur dan buah.
7. Mino Berkah – budidaya perikanan dan kolam ikan.
8. Mendo Berkah – peternakan kambing dan pengelolaan pupuk.
9. Unggas Berkah – usaha ternak unggas sebagai penopang ekonomi warga.
Program-program tersebut tersebar dan melibatkan warga RT 1 dan RT 2 Padukuhan Krapyak IX sebagai pelaku utama.
Sejumlah fasilitas penunjang telah dibangun dan terus dikembangkan, mulai dari pengerasan jalan desa, pengelolaan irigasi, hingga saluran limbah industri tahu agar lebih ramah lingkungan. Kampung Emas juga memiliki area outbound, ruang olahraga, lapangan terbuka, serta fasilitas panahan.
Di bidang kebudayaan, Pendopo Gamelan menjadi pusat kegiatan seni dan ruang pertemuan warga. Anak-anak kampung terlibat aktif dalam pertunjukan kethoprak bertema lokal, menjadikan seni sebagai bagian hidup masyarakat, bukan sekadar tontonan.
Potensi budaya diperkuat dengan keberadaan Dalem Pawiro Diharjo, yang dimanfaatkan sebagai ruang pelatihan karawitan, tari, dan pentas budaya.
Tim UNY secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan setiap program berjalan sesuai tujuan. Dalam perjalanannya, Kampung Emas Krapyak IX tidak hanya diarahkan sebagai desa edukatif, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan berbasis masyarakat.
“Ke depan, Kampung Emas Krapyak IX kami arahkan menjadi kampung budaya berbasis pendidikan, di mana tradisi lokal tetap hidup, tetapi masyarakat juga memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi,” kata Sari.
Dari desa yang pernah tertinggal, Kampung Emas Krapyak IX kini tumbuh sebagai ruang belajar bersama, tempat kampus, kampung, dan kebudayaan saling bertemu demi masa depan masyarakat yang lebih berdaya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)