Keripik Gembus, Olahan Limbah Tahu Tempus Supermarket di Yogyakarta
- Jan 05, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Limbah tahu yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak, kini memiliki nilai tambah berkat inovasi Rahayu, pemilik rumah produksi 2Dhe, yang beralamat di RT 4 RW 28 Krapyak X, Margoagung, Seyegan, Sleman. Melalui tangan kreatifnya, limbah tahu diolah menjadi camilan bernilai ekonomi tinggi berupa keripik gembus yang kini telah merambah pasar supermarket.
Krapyak X dikenal sebagai sentra produksi tahu di wilayah Sleman bagian barat. Melimpahnya limbah tahu mendorong Rahayu untuk berinovasi.
“Awalnya limbah tahu di sini hanya dipakai untuk pakan ternak. Saya berpikir bagaimana caranya supaya limbah ini bisa punya nilai jual lebih,” ujar Rahayu yang ditemui di rumah produksinya hari Sabtu (3/1/2026).
Setiap hari, Rahayu membutuhkan sekitar tiga ember limbah tahu untuk memproduksi 14–15 kilogram keripik gembus. Usaha yang telah dijalankannya selama kurang lebih 10 tahun itu masih dikelola secara sederhana dengan satu orang karyawan.
“Produksi dari awal sampai akhir masih saya dan suami yang mengerjakan, mulai dari pengolahan sampai packing,” katanya saat ditemui di sela-sela aktivitas pengemasan produk.
Selain keripik gembus sebagai produk unggulan, rumah produksi 2Dhe juga menghasilkan camilan lain seperti keripik kenikir, usus crispy, dan keripik pare, meski bersifat pesanan.
“Kalau yang paling dikenal memang keripik gembus. Produk lain biasanya kalau ada permintaan saja,” jelasnya.
Rahayu aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti gebyar UMKM, Pasar Tani, serta kurasi produk yang dilakukan oleh dinas terkait. Dari proses tersebut, kualitas rasa dan kemasan produknya terus mengalami peningkatan.
“Setelah ikut kurasi, saya banyak belajar soal standar rasa dan kemasan. Dari situ mulai ada tawaran masuk ke supermarket,” ungkap Rahayu.
Saat ini, keripik gembus 2Dhe telah dipasarkan di beberapa supermarket ternama di Yogyakarta. Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi pun ikut bertambah. Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, Rahayu bekerja sama dengan tiga pengrajin tahu.
“Setiap hari saya ambil bahan dari tiga pengrajin supaya produksi tetap jalan,” ujarnya.
Rahayu juga memperhatikan pengelolaan limbah cair dengan menyiapkan sumur resapan. Rumah produksinya pun kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa.
“Biasanya mahasiswa meneliti soal pengolahan limbah, bahkan ada yang saya minta mencoba membuat tepung dari limbah tahu,” katanya.
Kendala utama yang dihadapi adalah faktor cuaca, karena berpengaruh pada proses pengolahan gembus. Meski demikian, keripik gembus yang dipasarkan di supermarket mampu bertahan hingga tiga bulan.
“Perlakuan gembus saat cuaca panas dan hujan itu berbeda, jadi harus lebih telaten,” tambahnya.
Ke depan, Rahayu mengakui masih ingin mengembangkan pemasaran melalui platform daring, yang hingga kini belum digarap secara maksimal. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)