Ki Aldi Gedrug, Dalang Muda Seyegan Penjaga Tradisi Wayang
- Jan 18, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Aldi Rizqi Abdiel Muhammad, yang akrab disapa Ki Aldi Gedrug, merupakan salah satu dalang muda potensial yang dimiliki Kapanewon Seyegan. Pemuda berusia 25 tahun ini telah menaruh kecintaannya pada dunia wayang sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketertarikan itu bermula dari kegemarannya melihat dan mengoleksi boneka wayang, yang kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memainkannya.
Perjalanan Aldi sebagai dalang dimulai saat ia berusia 14 tahun, ketika masih duduk di kelas 3 SMP. Sejak itu, bakatnya mulai terlihat hingga ia dipercaya tampil sebagai dalang pembuka dalam pagelaran wayang pada acara Reuni Alumni SMP Negeri 1 Mlati. Dalam kesempatan tersebut, Aldi membawakan lakon Aji Narontoko selama kurang lebih 30 menit.
Untuk memperdalam kemampuannya, Aldi belajar langsung dari para dalang senior guna memahami pakem cerita sekaligus karakter tiap tokoh wayang. Keseriusannya di dunia seni juga didukung oleh latar belakang pendidikan formal. Ia menempuh pendidikan di SMKI Bugisan Yogyakarta, kemudian melanjutkan studi seni karawitan hingga jenjang S1 dan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saat ini, Aldi tengah menempuh program doktoral (S3) di Jurusan Bahasa, Sastra, dan Budaya di universitas yang sama.
Menurut Aldi, ketertarikan generasi muda terhadap wayang sebenarnya cukup besar. Namun, ketertarikan tersebut masih sebatas pada rasa ingin tahu dan kesenangan semata.
“Sebenarnya banyak generasi milenial yang menyukai wayang, tetapi kebanyakan masih sebatas ingin tahu atau senang mengoleksi boneka wayang, belum sampai pada tahap menjadi pelaku seni untuk melestarikan budaya,” ungkap Aldi yang ditemui di rumahnya pada hari Sabtu (17/1/2026).
Selain itu, Aldi juga menyoroti minimnya ruang berkarya bagi anak muda yang tertarik pada seni tradisi.
“Sampai sekarang belum ada tempat yang benar-benar representatif sebagai laboratorium seni bagi generasi muda untuk berkarya dan bereksplorasi,” katanya.
Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pelestarian seni, Aldi mendirikan sanggar Laras Ayodya di rumahnya yang beralamat di Padukuhan Jamblangan RT 3, Margomulyo. Sanggar ini menjadi wadah latihan seni bagi warga sekitar, khususnya generasi muda. Meski demikian, kegiatan latihan masih bersifat insidental dan biasanya dilakukan menjelang kegiatan tertentu. Saat ini, latihan rutin karawitan baru diikuti oleh siswa SD Negeri Jamblangan.
Aldi menilai perlu adanya terobosan dalam pementasan budaya agar lebih relevan dengan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisi. Ia pun mengusung konsep pakeliran padat dalam setiap pementasannya.
“Saya mencoba mengemas pagelaran wayang dengan konsep pakeliran padat, tetap berpegang pada pakem dan lakon, tetapi durasinya lebih singkat dan ceritanya disesuaikan agar bisa dinikmati semua usia,” jelasnya.
Pembinaan seni pedalangan yang dilakukan secara rutin oleh Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) diharapkan mampu menciptakan ekosistem seni yang produktif dan melahirkan karya-karya bernilai budaya. Hingga kini, Ki Aldi Gedrug telah tampil mendalang di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta serta di Kota Semarang, Jawa Tengah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).