KIM Depok Raya Bekali Santri Nurul Ummah Pelatihan Kepenulisan
- Feb 06, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Sekretaris Forum Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya Kabupaten Sleman, Athiful Khoiri, S.Psi, M.Psi, memberikan pelatihan kepenulisan bagi santri Asrama Mahasiswa dan program Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta, Kamis (5/2/2026). Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat budaya literasi tulis, meningkatkan kemampuan menuangkan gagasan secara sistematis, serta menumbuhkan keberanian santri untuk menulis dan mempublikasikan karya.
Dalam pengantarnya, Athiful menegaskan bahwa menulis merupakan keterampilan dasar yang dapat dipelajari oleh siapa pun, termasuk santri, sepanjang disertai tekad, latihan, dan konsistensi. Menurutnya, persoalan utama yang sering dihadapi penulis pemula bukan terletak pada keterbatasan kemampuan, melainkan pada keberanian memulai dan kedisiplinan menjaga kebiasaan menulis.
“Menulis itu sebenarnya mudah dan menyenangkan. Kuncinya adalah tekad, menulis secara rutin, dan konsisten. Jika tiga hal ini dijaga, kemampuan menulis akan berkembang dengan sendirinya,” ujarnya.

Athiful mengajak peserta mengenali berbagai hambatan yang kerap menjadi alasan seseorang enggan menulis, seperti merasa tidak memiliki cukup waktu luang, kesulitan menuangkan ide dan gagasan, keterbatasan sarana, hingga rasa kurang percaya diri saat membaca ulang tulisannya sendiri.
Ia menekankan bahwa hambatan tersebut perlu disikapi secara realistis dan tidak dijadikan alasan untuk berhenti belajar. Menurutnya, keberanian menulis draf awal jauh lebih penting daripada tuntutan menghasilkan tulisan sempurna sejak awal.
Pada sesi berikutnya, Athiful memaparkan strategi menggali ide dengan menekankan pentingnya kebiasaan membaca, mendengar secara serius, berdiskusi, dan mengamati lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa kualitas tulisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bacaan.
“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Semakin banyak membaca, semakin kaya sudut pandang dan pilihan kata dalam tulisan. Apa yang kita baca akan tersimpan dan memengaruhi cara kita menulis,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali tahapan menulis secara runtut dan praktis. Athiful menjelaskan langkah-langkah menulis mulai dari menentukan tema, memilih waktu dan tempat yang kondusif, menyiapkan referensi, menuangkan gagasan ke dalam paragraf, menyunting dan merapikan kalimat, meneliti data, hingga menentukan judul. Ia menekankan bahwa proses penyuntingan merupakan bagian penting dalam menghasilkan tulisan yang rapi, akurat, dan layak dibaca publik.
Selain aspek teknis penulisan, Athiful juga menyampaikan materi mengenai etika dan strategi mengirimkan tulisan ke media massa. Ia mengingatkan pentingnya memahami karakter media tujuan, mempelajari tulisan yang pernah terbit, serta menyiapkan naskah yang rapi dan sesuai kaidah jurnalistik. Menurutnya, pemahaman tersebut akan membantu penulis pemula agar karyanya lebih mudah diterima redaksi.
Menutup pelatihan, Athiful memberikan sejumlah pesan motivatif agar santri tidak mudah menyerah dalam proses belajar menulis. Ia mengingatkan peserta untuk tidak takut menerima kritik, tidak membuang arsip tulisan yang belum berhasil terbit, serta tidak terjebak pada perfeksionisme berlebihan. “Tulisan yang baik lahir dari proses panjang. Jangan menyerah hanya karena gagal sekali atau dua kali. Terus menulis dan memperbaiki,” tuturnya.
Melalui pelatihan kepenulisan ini, santri Asrama Mahasiswa dan Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta diharapkan semakin terampil menulis secara sistematis, berani menyampaikan gagasan keilmuan dan keislaman secara bertanggung jawab, serta mampu berkontribusi dalam penguatan literasi publik melalui karya tulis yang mencerahkan.
(Sutarto Agus/KIM Seyegan)