Komunikasi Efektif Jadi Kunci, Penyuluh Lingkungan Dituntut Kuasi Public Speaking yang Inspiratif

  • Apr 09, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Kemampuan public speaking dan communication skill kini menjadi kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh penyuluh lingkungan hidup dan fasilitator yang terjun langsung ke masyarakat. Tidak hanya menyampaikan informasi, mereka juga dituntut mampu membangun kepercayaan, menggerakkan partisipasi, serta mengubah perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Workshop Training of Trainers (TOT) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah Kabupaten Sleman Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Rabu (8/4/2026) di Prima SR Hotel and Convention. Kegiatan ini diikuti oleh 33 peserta yang akan berperan aktif dalam edukasi dan pendampingan masyarakat di bidang lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, public speaking ditekankan sebagai proses berbicara di depan khalayak dengan tujuan tertentu, mulai dari menyampaikan informasi hingga mempengaruhi dan menggerakkan audiens. Kemampuan ini menjadi bagian penting dari komunikasi publik yang melibatkan berbagai komponen seperti komunikator, pesan, media, komunikan, gangguan, dan konteks.

Di tengah meningkatnya tantangan isu lingkungan seperti pengelolaan sampah dan perubahan iklim, pendekatan komunikasi yang persuasif dinilai lebih efektif dibanding sekadar penyampaian data. Penyuluh dituntut mampu menyederhanakan pesan yang kompleks agar mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

“Public speaking bukan sekadar berbicara di depan orang banyak, tetapi bagaimana kita bisa menyentuh cara berpikir dan perasaan audiens,” ujar Vincentius Wedha, Founder dan Psikolog ARETE Consultante di hadapan peserta.

Wedha menjelaskan bahwa keterampilan komunikasi memiliki peran strategis bagi kader lingkungan, di antaranya untuk mempermudah proses edukasi dan sosialisasi, mempersuasi dan mendorong perubahan perilaku, memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, menangani keluhan dan resistensi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kemampuan mendengar aktif sebagai bagian dari komunikasi efektif. Penyuluh tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan serta kondisi masyarakat yang dihadapi.

“Komunikasi itu dua arah. Penyuluh yang baik adalah mereka yang mampu mendengarkan sebelum memberikan solusi,” tambahnya.

Selain itu, penggunaan bahasa yang sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari menjadi faktor penting dalam keberhasilan penyampaian pesan. Pendekatan yang terlalu teknis justru berpotensi menjadi hambatan dalam komunikasi di lapangan.

“Kalau kita bicara dengan istilah ilmiah yang rumit, pesan tidak akan sampai. Gunakan bahasa yang membumi agar masyarakat merasa dekat,” ungkap Wedha.

Ia juga mengingatkan adanya hambatan dalam public speaking dan komunikasi, terutama dari faktor eksternal seperti penolakan, sikap apatis masyarakat, gangguan lingkungan, hingga keterbatasan sarana dan prasarana.

Kepercayaan diri dan empati pun menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi yang efektif. Penyuluh yang mampu tampil percaya diri namun tetap rendah hati dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat.

“Orang tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga merasakan bagaimana kita menyampaikannya,” jelasnya.

Dengan penguasaan keterampilan komunikasi yang baik, para penyuluh lingkungan hidup dan fasilitator diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang efektif. Mereka diharapkan dapat mendorong kesadaran kolektif masyarakat serta menciptakan dampak nyata dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)