"Laskar Sedekah": Menyalakan Hidup Lewat Kerja Kemanusiaan
- Jan 29, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Berangkat dari sebuah padukuhan sederhana di Sleman, tepatnya di Padukuhan Ngentak RT 3 RW 29 Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, sebuah gerakan sosial tumbuh dan terus menyala hingga hari ini. Tempat itu menjadi saksi lahirnya Laskar Sedekah, komunitas sosial independen yang berkomitmen penuh pada nilai kepedulian dan cinta kasih kepada sesama.
Laskar Sedekah resmi berdiri pada 30 Maret 2012, diprakarsai oleh Ma’ruf Fahrudin bersama enam orang pemuda. Dengan semangat kerelawanan, mereka mengibarkan “bendera” kemanusiaan melalui aksi nyata: membantu orang sakit dan anak yatim piatu, khususnya anak yatim non-panti yang kerap luput dari perhatian.
“Sejak awal kami ingin membantu dengan tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Kami hadir untuk mereka yang sering tidak terlihat,” ujar Ma’ruf Fahrudin mengenang awal berdirinya Laskar Sedekah.
Seiring waktu, aktivitas sosial Laskar Sedekah terus berkembang. Tak hanya pendampingan sosial, relawan Laskar Sedekah juga sigap menangani home emergency, kecelakaan lalu lintas, pengantaran jenazah, hingga pengantaran pasien untuk keperluan check-up medis. Semua dilakukan dengan satu prinsip utama: hadir cepat dan tulus untuk masyarakat yang membutuhkan. Khusus untuk anak yatim piatu non panti dipenuhi kebutuhan sekolahnya hingga kebutuhan pangan dengan diajak belanja ke Toserba untuk memilih kebutuhan sendiri.
Relawan Laskar Sedekah didominasi anak-anak muda : mahasiswa, pencari kerja, hingga pengusaha muda yang dipersatukan oleh visi kemanusiaan yang sama. Proses perekrutan dilakukan secara terbuka melalui open recruitment, dilanjutkan dengan pembekalan nilai, visi, dan misi organisasi.
Ma’ruf yang ditemui di Sekretariat pada hari Rabu (28/1/2026), menegaskan bahwa menjadi relawan Laskar Sedekah bukanlah perkara ringan. Kerja tanpa bayaran, kesiapsiagaan 24 jam, dan tuntutan keikhlasan menjadi tantangan tersendiri.
“Kami selalu menekankan kepada relawan bahwa ini kerja kemanusiaan. Tidak dibayar, tapi penuh tanggung jawab. Karena itu yang paling penting adalah istiqomah,” tegasnya.
Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Laskar Sedekah sepenuhnya bergantung pada sponsor dan donatur. Namun tak jarang dana operasional tidak mencukupi. Dalam kondisi tersebut, pengurus memilih menutup kekurangan dengan dana pribadi. Sikap ini sejalan dengan slogan mereka, “Jangan bayar kami, tapi doakanlah kami.”
Dengan tagline “Urip iku Urup”—hidup itu harus menyala—Ma’ruf dan rekan-rekannya berkomitmen menjadikan hidup lebih bermakna dengan memberi manfaat bagi sesama.
Lebih dari satu dekade mengabdi, Laskar Sedekah kini telah memiliki 18 cabang yang tersebar di berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa. Kiprah mereka bahkan mendapat perhatian nasional melalui liputan program televisi swasta seperti Kick Andy dan Hitam Putih.
Meski demikian, tantangan terbesar tetap pada pengelolaan sumber daya manusia. Menjaga semangat relawan agar tetap ikhlas dan konsisten membutuhkan motivasi berkelanjutan serta dukungan tim yang solid. Oleh karena itu, dalam aktivitas kemanusiaannya, Laskar Sedekah terus membangun jejaring, baik dalam hal pendanaan operasional, penyaluran amanah sedekah, maupun penentuan sasaran bantuan sosial.
Menariknya, para sponsor tidak pernah menuntut laporan keuangan secara detail. Meski begitu, Laskar Sedekah tetap menjaga transparansi dengan membagikan laporan kegiatan secara virtual melalui foto dan video di media sosial. Ma’ruf pun selalu mengingatkan relawan untuk menjaga amanah dan nama baik organisasi.
Sejak awal berdiri, Laskar Sedekah tidak menaruh harapan besar pada bantuan pemerintah. Kemandirian menjadi prinsip utama. Bahkan dalam praktiknya, instansi pemerintah justru kerap meminta bantuan Laskar Sedekah, terutama dalam layanan ambulans untuk berbagai kepentingan sosial. Tak jarang pula Laskar Sedekah dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan motivasi.
Tanpa janji muluk dan tanpa pamrih, Laskar Sedekah terus melangkah. Menyalakan hidup, satu aksi kemanusiaan pada satu waktu. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)