Lestarikan Budaya Lokal, Kembang Teater Seyegan Garap Sinema Kethoprak "Kidung Kasetyan"

  • Feb 17, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan oleh Paguyuban Seni Kembang Teater Seyegan melalui garapan sinema kethoprak (Sineprak) berjudul “Kidung Kasetyan”. Karya ini terinspirasi dari tokoh historis yang memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Yogyakarta serta sejarah wilayah Sleman bagian barat, yakni Kanjeng Raden Tumenggung Nitiprojo.

Naskah kethoprak ini ditulis sekaligus disutradarai oleh Sugiman Dwi Nur Setyo. Proses pengambilan gambar dilaksanakan selama dua hari, Jumat dan Sabtu (14–15 Februari 2026), di enam lokasi bersejarah yang seluruhnya berada di Kalurahan Margomulyo, Seyegan. Beberapa titik penting yang menjadi lokasi shooting antara lain Padukuhan Gerjen, Bulak Si Keri Kamal Kulon, Embung Depok, Padukuhan Ngemplak, serta Padukuhan Sompokan.

Padukuhan Gerjen memiliki nilai historis yang kuat karena diyakini sebagai lokasi “Pertempuran Gerjen”, sekaligus tempat dimakamkannya Tumenggung Nitiprojo. Ia dikenal sebagai salah satu punggawa keraton yang berpengaruh di wilayah Sleman barat.

Kisah dalam “Kidung Kasetyan” tidak lepas dari konteks sejarah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Dalam perang tersebut, Nitiprojo yang juga bergelar Kiai Tumenggung Nitinegoro tercatat sebagai salah satu tokoh penting. Ia merupakan menantu dari Sultan Hamengku Buwono II dan berada dalam barisan pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme Belanda.

Dikisahkan, dalam peristiwa pertempuran di Nglengkong, pasukan Diponegoro sempat terdesak dan membangun pertahanan di wilayah Beteng Margoagung, Seyegan. Pertempuran kemudian berlanjut di Gerjen. Dalam situasi tersebut, Tumenggung Nitiprojo tertinggal dan menghadapi penghadangan di Dusun Gerjen hingga akhirnya gugur dan dimakamkan di sana. Masyarakat setempat juga mengenal sosok Putri Keri sebagai salah satu kerabat Diponegoro yang tertinggal di wilayah itu.

Nilai kepahlawanan dan kesetiaan Nitiprojo inilah yang diangkat oleh Kembang Teater dalam Sineprak “Kidung Kasetyan”. Suparjianto, salah satu pemain yang ditemui di lokasi shooting, menyampaikan bahwa ide cerita ini juga bertujuan mengedukasi masyarakat dan membangkitkan jiwa nasionalisme.

“Melalui Sineprak ini kami ingin generasi muda tahu bahwa Seyegan punya tokoh perjuangan yang luar biasa. Kalau sejarahnya dikenal, rasa memiliki terhadap budaya daerah pasti akan tumbuh,” ujar Suparjianto.

Ia juga menambahkan, “Kami berharap karya ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan agar masyarakat semakin peduli menjaga tradisi dan warisan leluhur.”

Produksi Sineprak yang melibatkan 35 pemain ini mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Sleman yang turut mendampingi selama proses shooting. Penggarapan dilakukan secara swadaya sebagai bentuk eksistensi Kembang Teater, paguyuban seni yang berdiri sejak tahun 1986 dan telah aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya, termasuk Festival Upacara Adat dan Tradisi Kabupaten Sleman beberapa tahun lalu.

Rencananya, “Kidung Kasetyan” akan ditayangkan di televisi swasta. Harapannya, sinema kethoprak ini mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya daerahnya, sekaligus mendorong kreativitas dalam melestarikan tradisi agar tidak hilang oleh zaman. Dukungan pembinaan berkelanjutan dari dinas terkait pun diharapkan agar para pelaku seni memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi lokal. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)