Mei Anjar Wintolo, Pengrajin Seni Kriya Logam dan Kayu yang Berjuang Melestarikan Bilah Nusantara
- Feb 10, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Menyusuri halaman rumah yang asri dengan pohon rambutan dan manggis, di sudut ruang terbuka terdengar suara alat grafir yang berpadu tanpa mengusik kicauan burung ciblek dan trotokan dalam sangkar di depan rumah. Suasana tenang itu menjadi saksi ketekunan seorang pengrajin bilah Nusantara.
Ditemui di rumahnya di Padukuhan Seyegan RT 04 RW 21, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, Sleman, pada Senin (9/2/2026), seorang lelaki bersahaja tampak meringkuk penuh konsentrasi menyelesaikan bilah yang telah setengah jadi. Dengan pencahayaan yang cukup, ia menghabiskan sebagian besar waktunya membuat bilah dekoratif yang tidak hanya bernilai seni, tetapi juga fungsional.
Ia adalah Mei Anjar Wintolo, lelaki kelahiran Bantul 47 tahun yang lalu itu akrab disapa Anjar. Sambutannya hangat dan akrab. Di Yogyakarta, nama Anjar bukanlah sosok asing. Ia dikenal sebagai aktivis dan penggiat sejarah serta cagar budaya yang tergabung dalam Komunitas Kandang Kebo yang mempunyai slogan "Menapak Jejak Sejarah leluhur Nusantara" dan kerap menjadi narasumber dalam berbagai diskusi kesejarahan.
Ketika ditanya mengenai bilah yang sedang dikerjakannya, Anjar dengan tangkas menjelaskan nama, asal-usul, hingga fungsi bilah tersebut. Di meja kerjanya, berjajar alat-alat manual seperti bendo atau golok, pangot, pahat, gergaji, palu, tang, dan kikir. Sementara di sudut ruangan lain terdapat peralatan mesin seperti bor, gerinda duduk, gerinda tuner (grafir), dan tanggem. Tak ketinggalan cairan kimia seperti ferric chloride yang digunakan untuk teknik etching atau pengkorosian logam.
Di depan meja kerja, tersusun rapi berbagai jenis kayu keras berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan gagang dan warangka. Di antaranya kayu johar, nangka, mlanding lokal, galih asem, rengas, tesek, hingga lotrok, yang termasuk dalam kayu langka bertuah.
“Setiap kayu punya karakter dan filosofi sendiri. Saya memilihnya bukan hanya karena kuat, tapi juga karena nilai sejarah dan simboliknya,” ujar Anjar.

“Untuk pembuatan bilah seperti cundrik atau pangot, paling cepat memakan waktu tiga hari. Sedangkan pedang panjang, golok, ataupun tombak bisa mencapai tujuh hingga sepuluh hari, tergantung kerumitan dan detailnya,” jelas Anjar, yang juga pernah tergabung dalam Tim Ahli Rehabilitasi Candi Cetho di lereng Gunung Lawu, Karanganyar.
Keunikan Anjar terletak pada caranya menyebut bilah-bilah buatannya. Ia selalu menggunakan istilah lokal sesuai jenisnya, seperti pangot, kudi, arit, caluk, wedhung, duduk, sabet, karambit, hingga badik. Dalam hal pemasaran, Anjar lebih sering melelang karyanya melalui media sosial Facebook. Ia cukup mencantumkan foto dan spesifikasi, lalu peminat datang dengan sendirinya.
Dalam proses pengerjaan, Anjar mengaku bekerja sama dengan para pandai besi di Purwokerto dan Majalengka. Mereka mengerjakan bilah sesuai desain dan ukuran, sementara Anjar menyempurnakan detail, karakter, hingga proses finishing. Ia juga membuat sendiri sarung bilah yang dijahit tangan, menggunakan berbagai jenis kulit seperti kulit sapi, biawak, ular, hingga kulit ikan pari.
Selama enam tahun bergelut di dunia kriya logam dan kayu, Anjar mengaku tidak menemui kendala berarti. Selain berkarya, ia juga aktif sebagai relawan sejarah dan budaya di Kalurahan Margokaton, tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai nilai sejarah dan budaya Nusantara.
Motivasi terbesarnya adalah kegelisahan melihat generasi muda yang mulai berpaling pada bilah-bilah luar negeri. Anjar menyebut bilah-bilah luar negeri seperti katana (Jepang), pedang plandao (Cina), kukri (Nepal), atau bowie (Eropa) yang banyak penggemarnya di Indonesia.
“Bilah Nusantara itu bukan sekadar alat atau senjata, tetapi identitas budaya. Kalau tidak kita rawat dan kenalkan, pelan-pelan bisa hilang,” tutur Anjar yang menjadi anggota Forum Kapak dan Bilah Nusantara. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)