Membentuk Kalurahan Berkarakter Sembada Melalui Penyusunan Topimini Padukuhan

  • Dec 31, 2025
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Upaya membentuk Kalurahan berkarakter Sembada melalui penyusunan toponimi padukuhan digelar pada Selasa (30/12/2025) di Gedung Serba Guna Margomulyo. Kegiatan ini diikuti oleh para dukuh, Babinsa/Bhabinkamtibmas, dan ketua RW se-Kalurahan Margomulyo.
Acara dibuka secara resmi oleh Kamituwo Margomulyo, Prasetyo Sujanarko, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan karakter masyarakat berbasis nilai budaya dan sejarah lokal.
“Toponimi bukan sekadar nama wilayah, tetapi identitas dan jati diri masyarakat yang harus dijaga dan diwariskan,” ujarnya.


Narasumber utama kegiatan ini adalah Budi Sarjono, yang akrab dipanggil Budsar adalah seorang sastrawan Jawa dan penulis buku dari Pasbuja (Paguyuban Sastra Budaya Jawa) Kabupaten Sleman. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan makna Sêmbada baik secara bahasa maupun sebagai falsafah hidup.
Budsar mengawali paparannya dengan menyampaikan makna sembada sebagai slogan Sleman . Sleman Sembada adalah slogan Pemerintah Kabupaten Sleman yang bermakna filosofis mendalam, gabungan dari singkatan huruf yang mewakili visi pembangunan dan kepribadian masyarakat Jawa yang tangguh, pantang menyerah, bertanggung jawab, serta bertekad kuat demi kesejahteraan bersama, digerakkan oleh, dari, dan untuk rakyat.
"Arti secara filosofi, Sembada, dalam Bahasa Jawa, berarti karakter yang kuat: pantang menyerah, tidak mudah mengeluh, menepati janji, taat asas, bertekad bulat, serta rela berkorban dan bertanggung jawab untuk mengatasi tantangan demi kesejahteraan", jelas Budsar.


Sedangkan arti secara singkatan (visi pembangunan) adalah 
S: Sehat.
E: Elok dan Edi (Indah).
M: Makmur dan Merata.
B: Bersih dan Berbudaya.
A: Aman dan Adil.
D: Damai dan Dinamis.
A: Agamis. 
Inti dari Sleman Sembada:
Sebuah gerakan pembangunan terpadu yang digerakkan dari, oleh, dan untuk masyarakat Sleman, bertujuan agar hasil pembangunan dapat dirasakan langsung oleh warga secara adil dan berkelanjutan. 
Budsar menguraikan bahwa SEMBADA merupakan singkatan nilai karakter, yaitu:
“Sembada itu menggambarkan manusia Jawa yang utuh, mampu berdiri sendiri, beretika, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial maupun budayanya,” jelasnya.


Ia juga menerangkan makna slogan Sembada sebagai simbol semangat untuk terus bergerak menjaga nilai-nilai tersebut dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Lebih lanjut, Budsar mengajak Pemerintah Kalurahan Margomulyo untuk menyusun dan memiliki buku toponimi padukuhan, yang berisi cerita lokal dan asal-usul wilayah yang ditulis oleh warga setempat.
“Cerita lokal sebaiknya ditulis oleh orang Margomulyo sendiri, karena merekalah pemilik sejarah itu,” tegasnya.
Saat ini, toponimi yang telah dibukukan baru mencakup tiga padukuhan, yakni Padukuhan Sompokan, Kasuran, dan Kregolan. Melalui cerita dan dongeng yang terdokumentasi, generasi penerus diharapkan dapat mengenal asal-usul wilayahnya sehingga tumbuh rasa bangga dan memiliki.


Budsar juga mengingatkan pentingnya percepatan pendokumentasian sejarah lisan.
“Kita berkejaran dengan waktu. Banyak narasumber sepuh yang sudah meninggal dunia. Kalau tidak segera ditulis, sejarah itu akan hilang,” ungkapnya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif, menunjukkan antusiasme peserta terhadap pelestarian sejarah dan budaya lokal di Kalurahan Margomulyo. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).