Mengenal Arang Batok Kelapa, Limbah Bernilai Sebagai Bahan Baku Briket

  • Jan 14, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Limbah sering kali dianggap tak bernilai. Padahal, jika dikelola dengan tepat, limbah justru dapat menjadi sumber penghidupan. Batok kelapa adalah salah satu contohnya. Di banyak desa, batok kelapa hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Namun kini, limbah tersebut dapat diolah menjadi arang batok kelapa yang bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku pembuatan briket.
Potensi itu ditangkap Hidayat, warga RT 06 RW 10 Dusun Kamal Kulon, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Tinggal di wilayah dengan banyak pengrajin gula kelapa dan kopra membuat limbah batok kelapa mudah diperoleh.

Ketertarikannya bermula pada tahun 2009 saat mengikuti pelatihan pembuatan arang batok kelapa yang diselenggarakan Lembaga Swadaya Masyarakat Kerabat Desa Kota (KDK).
“Awalnya saya hanya ikut pelatihan pembuatan arang batok kelapa. Dari situ saya melihat limbah batok kelapa di sini melimpah dan sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Hidayat yang ditemui dirumahnya Selasa (13/1/2026).
Berbekal ilmu dari pelatihan tersebut, Hidayat mulai merintis usahanya pada tahun 2011. Di belakang rumahnya, ia membangun dua tungku pembakaran. Tungku pertama berukuran 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi 2 meter, sedangkan tungku kedua berukuran 1 x 1 meter dengan tinggi yang sama. Untuk satu kali proses pembakaran, kedua tungku tersebut membutuhkan sekitar 550 kilogram batok kelapa.


Bahan baku diperoleh dari wilayah sekitar. Jika pasokan menipis, Hidayat mendatangkan batok kelapa dari Mlati, Sleman, hingga Manisrenggo, Klaten. Batok kelapa yang telah tua dan kering dimasukkan ke dalam tungku pembakaran yang dilengkapi pipa cerobong. Proses pembakaran memakan waktu sekitar satu setengah hari dan dalam satu bulan dapat dilakukan hingga 12 kali, tergantung cuaca dan ketersediaan bahan baku.
Perjalanan usaha ini tidak lepas dari kendala. Di awal produksi, asap dan bau menyengat dari pembakaran kerap memicu protes warga sekitar, terutama saat musim hujan ketika asap turun dan mencemari lingkungan.
“Dulu warga sering mengeluh karena asap dan baunya menyengat, apalagi saat hujan. Akhirnya saya buat kolam air di cerobong supaya asapnya terkondensasi dan tidak terlalu mengganggu,” katanya.

Arang Batok Kelapa dari Seyegan, Limbah Bernilai Bahan Baku Briket Ekspor
Inovasi tersebut tidak hanya mengurangi polusi udara, tetapi juga menghasilkan produk sampingan berupa asap cair atau liquid smoke. Asap cair yang dihasilkan masih berada pada grade 3 dan umumnya dimanfaatkan sebagai pengawet kayu dan bambu, penghilang bau kandang, serta pestisida alami untuk tanaman hortikultura. Dengan proses destilasi berulang, kualitas asap cair sebenarnya bisa ditingkatkan hingga food grade, namun masih terkendala biaya dan perizinan.
Selain arang dan asap cair, proses pembakaran juga menghasilkan abu sisa dalam jumlah relatif sedikit. Limbah ikutan ini dimanfaatkan oleh kelompok tani sebagai campuran pupuk atau bahan briket berkualitas rendah. Hidayat juga menjalin kerja sama dengan lembaga di tingkat kalurahan terkait pemanfaatan limbah tersebut.


Usaha arang batok kelapa ini sempat menghadapi kendala pemasaran. Pada tahun 2022, pasca pandemi Covid-19, arang batok produksi Hidayat sempat tidak terserap pabrik akibat kenaikan biaya pengiriman laut untuk ekspor ke Timur Tengah. Di musim hujan, bahan baku yang basah juga membuat proses pembakaran menjadi lebih lama.
Meski demikian, Hidayat tetap bertahan. Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 9 hingga 12 kuintal arang batok kelapa per bulan. Arang tersebut dipasok ke perusahaan pembuat briket di wilayah Minggir dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram. Selanjutnya, briket arang batok kelapa tersebut diekspor ke Timur Tengah untuk kebutuhan industri, salah satunya sebagai pelengkap pembuatan rokok di kawasan Jazirah Arab.


Bagi Hidayat, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan. Ia berharap aktivitas produksinya dapat terus berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan warga sekitar.
“Batok kelapa yang dulu cuma dianggap limbah, sekarang bisa jadi sumber penghidupan. Harapan saya ke depan, usaha ini bisa terus jalan tanpa mengganggu lingkungan sekitar,” pungkas Hidayat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)