Menghitung Langkah Menuju Masjid, Rahmad Tuna Netra Setia Kumandangkan Adzan
- Jan 07, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Sosok Rahmat (48) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas Masjid Al Kautsar, Dusun Mrincingan, Margomulyo, Seyegan. Setiap hari, suara merdunya mengumandangkan adzan yang selalu dinanti para jamaah. Tak banyak yang menyangka, muadzin Masjid Al Kautsar yang mempunyai nama panjang Rahmat Choirul Anam tersebut adalah seorang penyandang disabilitas tuna netra.
Dengan berjalan sendiri dari rumahnya yang berjarak sekitar 350 meter dari masjid, Rahmat menjadikan langkah kakinya sebagai “kewajiban” ibadah. Ia dikenal selalu datang tepat waktu, bahkan setengah jam sebelum waktu salat tiba.
“Saya berangkat lebih awal supaya tidak terlambat dan bisa menenangkan hati sebelum adzan,” ujar Rahmat.
Tak terkecuali pada waktu Subuh. Sejak pukul 02.00 dini hari, Rahmat sudah berada di masjid untuk membersihkan masjid, mencuci gelas kotor dan melaksanakan salat sunnah, serta mengumandangkan adzan awal.
“Kalau Subuh saya merasa punya tanggung jawab lebih. Masjid harus bersih dan jamaah harus terbangun,” katanya.
Ditemui di rumahnya, Senin (5/1/2026), Rahmat menuturkan perjalanan hidupnya. Ia mengalami kebutaan sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar akibat ledakan mercon saat bermain bersama teman-teman sebayanya di kampung.
“Waktu itu saya sangat terpukul. Saya merasa kehilangan masa kecil dan masa depan,” kenangnya.
Namun titik balik hidupnya datang saat berusia 13 tahun, ketika ia bertemu seorang tokoh yang ia panggil Abah dalam sebuah pengajian dari Banten.
“Abah mengajarkan saya untuk tidak bergantung pada orang lain. Dari beliau saya belajar keterampilan pijat dan cara hidup mandiri,” tuturnya.
Sejak tahun 2009, Rahmat menjalani kehidupan sederhana di Sleman, kampung asal istrinya. Ia bekerja sebagai terapis pijat, bertani, dan aktif di masjid. Ia juga telah dikaruniai satu anak yang kini duduk di kelas 2 SMP.
“Saya tidak ingin dikasihani. Saya hanya ingin bermanfaat dan terus beribadah selama masih diberi umur,” ucap Rahmat.
Sarinah, istri setianya yang sedari tadi mendampinginya membenarkan apa yang disampaikan suaminya. Membetulkan genting bocor, mengganti bolam lampu, menyambung kabel, menanak nasi, sampai panen padi di sawah sebagai buruh tanipun bisa dilakukan.
"Kadang kadang saya seolah tidak menyadari kalau suami saya tuna netra. Saking mandirinya", jelas Sarinah dengan mata berkaca kaca menahan tangis.
Sebagai bentuk kepedulian, Takmir Masjid Al Kautsar mengusahakan bantuan untuk Rahmat dari Lazismu berupa tongkat dan kasur untuk pijat.
“Bantuan itu sangat membantu aktivitas saya sehari-hari, terutama saat berjalan ke masjid,” pungkasnya.
Rahmat adalah buku terbuka. Dari kisahnya dapat kita baca perjalanan hikmah seorang muadzin tuna netra. Setia, Istiqomah dan menjalani hidup dengan berani. Dia gantungkan semuanya pada Alloh, sehingga Waktu baginya hanya untuk menunggu waktu sholat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)