Menjaga Warisan Leluhur di Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan

  • Feb 23, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Ratusan batu andesit tersusun rapi di sebuah halaman di Padukuhan Gondang, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan. Sepintas terlihat seperti bongkahan batu biasa. Namun siapa sangka, di tempat inilah sebanyak 543 Benda Cagar Budaya (BCB) diselamatkan dan dirawat sebagai bagian dari sejarah panjang peradaban masa lampau.

Situs Penampungan Cagar Budaya Seyegan menjadi yang terbesar di Kabupaten Sleman. Wilayah kerjanya meliputi lima kapanewon, yakni Kapanewon Godean, Kapanewon Moyudan, Kapanewon Minggir, Kapanewon Tempel, serta Seyegan sendiri. Secara kelembagaan, penampungan ini berada di bawah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dengan cakupan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Di Kabupaten Sleman terdapat tiga lokasi penampungan BCB, yakni di Kapanewon Mlati, Kapanewon Turi, dan Seyegan. Namun, jumlah koleksi terbanyak berada di Seyegan.

Sebagian besar benda cagar budaya yang kini tersimpan ditemukan berkat laporan masyarakat. Setiap laporan ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan oleh petugas. Jika dinilai sebagai benda cagar budaya, proses evakuasi pun dilakukan.

Mayoritas temuan berbahan batu andesit, mulai dari arca Durga, arca Nandi, arca Ganesha, arca Buddha, lingga patok, yoni, makara, kemuncak, antefiks, hingga batu candi dan wadah peripih. Benda purbakala terakhir yang masuk adalah sebuah Yoni yang ditemukan di wilayah Gunung Gedang pada tahun 2023.

Di lokasi penampungan, tiga orang Juru Pelihara (Jupel) bertugas memastikan seluruh koleksi tetap bersih dan terawat. Perawatan dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana seperti sikat ijuk, sapu lidi, kuas, dan air.

Tri Suharyono, salah satu Jupel, mengatakan bahwa perawatan harus dilakukan tanpa henti, terlebih saat musim hujan.

“Musim penghujan seperti ini hampir setiap hari kami lakukan pembersihan, karena lumut dan mikroorganisme cepat sekali tumbuh,” ujarnya disela kegiatan rutin membersihkan BCB di kantornya pada hari Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, metode tradisional justru menjadi cara paling aman untuk menjaga struktur batu agar tidak rusak.

Secara berkala, pengecekan dan pembersihan mekanis memang wajib dilakukan agar kebersihan dan keterawatan benda tetap terpantau.

Selain merawat, para Jupel juga berperan sebagai sumber informasi bagi pengunjung. Situs ini kerap menerima kunjungan pelajar dan mahasiswa yang menyusun karya tulis tentang cagar budaya. Bahkan, masyarakat umum dari luar daerah seperti Magelang, Bandung, dan Surabaya pernah datang untuk belajar langsung.

Subagyo, Jupel yang pernah terlibat dalam restorasi Candi Prambanan, menjelaskan bahwa mereka juga dibekali pengetahuan teknis.

“Kami juga dibekali dengan Kamus Kecil Arkeologi untuk dapat menjelaskan istilah-istilah perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan purbakala,” jelasnya.

Dengan tata ruang yang rapi dan representatif, penampungan ini bukan sekadar gudang penyimpanan, melainkan ruang belajar terbuka tentang sejarah.

Sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kekayaan warisan budaya yang beragam, baik bergerak maupun tidak bergerak. Situs Penampungan Cagar Budaya Seyegan yang masuk dalam Pokja Pemeliharaan memegang peranan penting dalam menjaga warisan tersebut tetap lestari.

Di antara deretan arca dan batu andesit yang tersusun rapi, tersimpan jejak peradaban masa lalu. Dan di tangan para Jupel, warisan itu terus dirawat, agar tetap hidup dalam ingatan generasi mendatang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)