Oemah Sabut Kelapa (Oesaka), Mitra Pengrajin yang Berbasis Ekonomi Kerakyatan

  • Jan 16, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Bagi sebagian orang, sabut kelapa hanyalah limbah yang tak bernilai. Namun di tangan Ichsan Mubaidi, S.Ag., MA, serabut kasar itu justru menjelma menjadi produk ramah lingkungan yang menembus pasar dunia. Ia adalah pendiri Oemah Sabut Kelapa (Oesaka), usaha berbasis kemitraan yang kini menggandeng sekitar 50 pengrajin di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya Kebumen.
“Awalnya saya melihat sabut kelapa ini sering terbuang percuma. Padahal kalau diolah dengan benar, nilainya bisa jauh lebih tinggi dan berdampak ke banyak orang,” ujar Ichsan yang ditemui di Kantor Penasaran Oesaka, Kamis (15/1/2026).


Oesaka dirintis pada tahun 2018. Pada masa itu, Ichsan belum langsung fokus pada sabut kelapa. Ia menjual berbagai jenis produk, mencoba pasar secara offline dan online, sambil mempelajari kebutuhan konsumen.
“Waktu itu saya jual apa saja. Yang penting belajar dulu bagaimana pasar bekerja dan bagaimana membangun kepercayaan konsumen,” katanya.
Momentum penting datang saat pandemi Covid-19. Ketika banyak usaha terpuruk, permintaan produk berbahan sabut kelapa justru meningkat tajam. Pot tanaman dan media tanam atau cocovit menjadi produk paling dicari, seiring meningkatnya aktivitas berkebun di rumah.
“Saat orang lebih banyak di rumah, mereka mulai berkebun. Dari situ saya sadar, ternyata pasar sabut kelapa ini sudah terbentuk,” tutur Ichsan.


Melihat peluang tersebut, Ichsan mulai serius mengembangkan Oesaka. Ia mendirikan pabrik produksi di Kebumen, daerah yang dikenal sebagai sentra gula jawa dan kaya akan limbah sabut kelapa.
“Kebumen itu logis. Bahan bakunya ada, pengrajinnya ada, dan masyarakatnya sudah terbiasa dengan kelapa,” jelasnya.
Di Kebumen, Oesaka mengoperasikan sekitar 20 mesin produksi, mulai dari mesin pencacah, press, hingga pemintal tali. Namun proses produksi tidak dilakukan secara terpusat. Ichsan memilih sistem kemitraan dengan pengrajin dan rumah produksi lokal.
“Kami tidak ingin mematikan pengrajin. Justru mereka yang kami perkuat. Oesaka menyiapkan bahan baku dan standar mutu, pengrajin fokus berkarya,” katanya.


Sementara itu, kantor pemasaran Oesaka yang berlokasi di Klaci 2 RT 01, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, menjadi pusat pengelolaan usaha. Di tempat ini, Ichsan merekrut warga sekitar untuk berbagai divisi, mulai dari produksi, riset dan teknologi, pemasaran, hingga keuangan.
“Saya ingin usaha ini tumbuh bersama lingkungan sekitar. Kalau bisnis jalan tapi warga sekitar tidak ikut merasakan, rasanya ada yang kurang,” ucapnya.
Beragam produk dihasilkan Oesaka, seperti keset, media tanam, pot, sangkar burung, tali, tas, sandal hotel, hingga produk custom sesuai permintaan konsumen. Pasarnya pun meluas hingga ke Jerman, Belanda, Prancis, Israel, Lebanon, Malaysia, Singapura, dan Australia, selain hampir seluruh provinsi di Indonesia.
“Ekspor itu bukan soal besar-kecil usaha, tapi soal konsistensi kualitas dan komitmen memenuhi pesanan,” kata Ichsan.

Oesaka Seyegan Kembangkan Sabut Kelapa Berbasis Ekonomi Kerakyatan hingga Pasar Global
Perjalanan Oesaka tidak lepas dari tantangan. Kenaikan harga kelapa akibat kebijakan impor kelapa utuh membuat bahan baku semakin mahal. Musim hujan juga sering menghambat proses penjemuran. Di sisi lain, keterbatasan tenaga kerja muda menjadi persoalan tersendiri.
“Anak-anak muda sekarang lebih tertarik kerja di kota. Ini PR besar bagaimana industri desa tetap menarik bagi mereka,” ungkapnya.
Konsistensi Ichsan dalam mengembangkan sabut kelapa mengantarkannya menjadi narasumber di berbagai kegiatan, mulai dari mahasiswa KKN, pelatihan UMKM, hingga program CSR perusahaan nasional seperti Pertamina, PLN, dan Bank Indonesia di berbagai daerah Indonesia.


Bahkan, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di bawah PBB mempercayakan Ichsan sebagai fasilitator pelatihan pengolahan sabut kelapa bagi masyarakat Timor Leste.
“Saya percaya, potensi desa itu luar biasa. Tinggal bagaimana kita mau serius mengelolanya dan berbagi ilmu,” pungkas Ichsan.
Di tengah dominasi produk plastik, Oesaka membuktikan bahwa sabut kelapa (Coco fiber) tetap relevan, bukan hanya sebagai produk ramah lingkungan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan dan keberlanjutan. Dari serabut kelapa, Ichsan menenun mimpi, menghubungkan desa dengan dunia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)