P3S Kawasan, Libatkan Pramuka untuk Aktif Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Edukasi dan Aksi Nyata

  • Apr 12, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Kiprah Saka Kalpataru Sleman dalam pengelolaan sampah terus menunjukkan kontribusi nyata melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, hingga praktik lapangan yang melibatkan generasi muda. Organisasi Pramuka berbasis lingkungan ini menjadi salah satu motor penggerak perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan.

Peran aktif tersebut semakin diperkuat dengan keterlibatan Saka Kalpataru sebagai Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kawasan yang dibentuk oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman. P3S Kawasan kini tersebar di 17 kapanewon dengan tugas strategis, mulai dari pengumpulan data, pendampingan administrasi, hingga sosialisasi sistem pengelolaan sampah berbasis digital.

Pelantikan P3S Kawasan dilaksanakan pada Sabtu (11/4/2026) di Pendopo Lapangan Randu Alas Balkondes Tuk Songo, Kabupaten Magelang, bersamaan dengan pelantikan P3S Kapanewon dan Kalurahan oleh Plt Kepala DLH Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta. Kegiatan ini juga diwarnai dengan aktivitas outbound yang mempererat kebersamaan antar relawan lingkungan.

“Keberadaan Saka Kalpataru selama ini sudah cukup menonjol, terutama dalam berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan di Sleman,” ujar Poppy Lestari Amin, Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah Kawasan wilayah Seyegan.

Sebagai wadah pembinaan Pramuka yang berfokus pada pelestarian lingkungan, Saka Kalpataru Sleman konsisten mengedepankan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam setiap programnya. Kegiatan latihan krida menjadi salah satu sarana utama, dengan fokus pada pengelolaan sampah organik seperti pembuatan kompos dan pemanfaatan limbah rumah tangga.

Tidak hanya sebatas teori, anggota juga terjun langsung ke lapangan. Mereka melakukan kunjungan ke TPS 3R Randu Alas untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu, termasuk pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan budidaya maggot sebagai solusi ramah lingkungan.

“Melalui praktik langsung seperti ini, anggota tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengelolaan sampah secara nyata di lingkungan masing-masing,” kata salah satu pembina Saka Kalpataru Sleman.

Selain itu, kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah juga rutin dilakukan guna menanamkan kesadaran sejak dini kepada para pelajar. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memilah sampah serta mengolahnya menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna.

Pengelolaan sampah anorganik pun dikembangkan menjadi berbagai produk daur ulang bernilai ekonomis. Langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong kreativitas anggota dalam menciptakan peluang baru berbasis lingkungan.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk DLH Kabupaten Sleman, turut memperkuat peran Saka Kalpataru. Dengan kepengurusan baru periode 2025–2027, organisasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan aksi dan meningkatkan partisipasi masyarakat.

“Edukasi yang berkelanjutan dan aksi nyata di lapangan menjadi kunci utama dalam menghadapi persoalan sampah di Sleman,” tegas Dias Oktri, Koordinator Pendamping Kawasan yang juga perwakilan DLH Kabupaten Sleman.

Dengan berbagai inisiatif tersebut, Saka Kalpataru Sleman tidak hanya berperan sebagai organisasi pembinaan Pramuka, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)