Pengajian Songsong Ramadhan di Masjid At-Taufiq PMA, Ustadz Syatori Abdul Rauf Ajak Jamaah Rawat Iman
- Feb 09, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid At Taufiq PMA Margomulyo menggelar pengajian bertajuk Songsong Ramadhan pada Ahad (8/2/2026). Pengajian tersebut dihadiri sekitar 100 jamaah dari Padukuhan Jamblangan dan sekitarnya.
Pengajian diisi oleh Ustadz Syatori Abdul Rauf dengan tema “Merawat Iman dari Sariawan Pikiran, Perasaan, dan Kesenangan” sebagai bekal spiritual jamaah dalam memasuki bulan Ramadhan.
Dalam muqodimahnya, Ustadz Syatori menjelaskan bahwa sariawan iman adalah kondisi ketika iman terasa perih, tidak nyaman, dan melemah akibat pikiran, perasaan, serta kesenangan yang tidak sejalan dengan hakikat iman. Kondisi ini membuat ibadah terasa berat, kebaikan dilakukan dengan terpaksa, maksiat dianggap biasa, dan kebenaran terasa mengganggu.
“Sariawan iman bukan berarti iman hilang, tetapi iman sedang terluka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Syatori menguraikan tiga bentuk sariawan iman. Pertama, sariawan iman pada pikiran, yang ditandai dengan prasangka buruk (su’uzan) kepada Allah dan manusia, membenarkan dosa dengan logika umum, meremehkan nilai agama demi kenyamanan pribadi, serta meragukan kebenaran iman karena mengikuti hawa nafsu. Dampaknya, pikiran sebagai pintu iman menjadi sakit sehingga hati ragu, amal melemah, dan iman kehilangan arah. Perawatannya dilakukan dengan membersihkan pikiran melalui ilmu, membiasakan husnuzan kepada Allah, serta menghentikan dialog batin yang membenarkan dosa.
Kedua, sariawan iman pada perasaan, yang muncul dalam bentuk iri, dengki, sombong, marah berlebihan, cinta dunia yang berlebihan, takut kehilangan dunia tetapi tidak takut kehilangan iman, serta malas beribadah karena hati tidak lagi lembut. Dampaknya, iman kehilangan keikhlasan, mudah tersinggung oleh nasihat, dan berat menerima kebenaran. Perawatannya dilakukan dengan melembutkan hati melalui dzikir dan doa, melatih syukur dan sabar, menangis di hadapan Allah, serta mengakui kelemahan diri.
Ketiga, sariawan iman pada kesenangan, yakni kesenangan yang melalaikan seperti hiburan berlebihan, nafsu yang tak terkendali, menikmati hal haram atau syubhat tanpa rasa bersalah, serta hidup hanya untuk kenyamanan, bukan ketaatan. Dampaknya, iman menjadi tumpul, rasa takut kepada Allah menurun, dan amal terasa sebagai beban. Sariawan ini dirawat dengan mengatur kesenangan, menjauhi yang jelas merusak iman, serta mengganti kesenangan maksiat dengan kesenangan yang halal dan bermakna.
Pada bagian selanjutnya, Ustadz Syatori menegaskan bahwa iman selalu menyertai amal. Iman tidak hidup sendiri, melainkan tumbuh dan menguat melalui amal saleh. “Iman melahirkan amal, dan amal menguatkan iman. Jika amal ditinggalkan, iman pun akan melemah,” ujarnya.
Beberapa contoh amal yang dapat menguatkan iman antara lain shalat tepat waktu dan khusyuk, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, bersedekah meski sedikit tetapi rutin, menjaga lisan dan sikap, serta menolong sesama dengan ikhlas. Amal bukan hanya bukti iman, tetapi juga obat bagi iman.
Di akhir tausiah, Ustadz Syatori mengajak jamaah untuk mengobati sariawan iman melalui lima langkah, yaitu menyadari dan jujur pada diri sendiri bahwa iman sedang sakit, membersihkan penyebabnya, memperkuat dengan nutrisi iman berupa ilmu, dzikir, ibadah, dan amal saleh, bersabar dalam proses penyembuhan, serta mendekatkan diri kepada Allah bukan sekadar melalui aktivitas agama, tetapi membangun hubungan yang tulus dengan-Nya.
“Sariawan iman bukan tanda kegagalan, melainkan peringatan cinta dari Allah agar kita kembali. Iman yang dirawat akan terasa manis, sedangkan iman yang dibiarkan akan terasa perih,” pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, Takmir Masjid At Taufiq PMA juga mengadakan aksi bakti sosial dengan menyalurkan bingkisan sembako kepada 30 jamaah kurang mampu yang hadir dalam pengajian. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).