Perluas Jangkauan MBG, SPPG Margomulyo Menyasar Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

  • Jan 08, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Setiap pagi, dapur SPPG Margomulyo tak pernah benar-benar sepi. Dari tempat inilah ratusan kilogram Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan, ditimbang, lalu didistribusikan kepada ribuan penerima manfaat di wilayah Seyegan dan sekitarnya. Namun bagi SPPG Margomulyo, MBG bukan sekadar soal jumlah porsi, melainkan juga tentang kecukupan gizi, kualitas makanan, rasa, dan keberlanjutan.
“Kami tidak hanya fokus ke anak sekolah. Ibu hamil dan ibu menyusui juga menjadi perhatian kami, karena mereka menentukan kualitas generasi ke depan,” ujar Ketua SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo, S.Psi, M.Pd saat ditemui di Kantor SPPG Margomulyo, Rabu (7/1/2026).


Saat ini, SPPG Margomulyo melayani 3.757 anak sekolah yang tersebar di 9 SD, 1 SMP, 13 PAUD/TK, 1 SMA, dan 1 SMK. Atas capaian tersebut, SPPG Margomulyo memperoleh Grade A dari Badan Gizi Nasional (BGN), dengan kapasitas maksimal pelayanan hingga 4.000 penerima manfaat.
Capaian itu bukan tanpa proses evaluasi. Setiap menu MBG yang keluar dari dapur selalu ditimbang, begitu pula sisa makanan yang kembali. Dari proses inilah SPPG bisa membaca minat penerima manfaat terhadap menu yang disajikan.
“Awal pelaksanaan, limbah makanan yang kembali ke dapur bisa mencapai 83 kilogram. Sekarang rata-rata tinggal 29 kilogram, dari total distribusi sekitar 700 sampai 800 kilogram per hari,” jelas Joni.


Menurutnya, penurunan limbah tersebut tidak lepas dari keterbukaan SPPG menerima masukan dari sekolah. Koordinasi dilakukan melalui Person On charge (PIC) MBG yaitu penanggung jawab yang biasanya bertugas di masing masing sekolah.
“Kami rutin evaluasi rasa dan menu. Kalau ada masukan dari PIC, kami catat dan perbaiki. Tujuannya supaya makanan benar-benar dimakan, bukan sekadar dibagikan,” tambahnya.
Komitmen tersebut tetap dijaga meski memasuki masa liburan sekolah. Selama liburan, MBG tetap diterimakan kepada siswa dalam bentuk menu kering, dengan satu kali pengantaran untuk seluruh periode liburan.
Tak hanya anak sekolah, sejak dua bulan terakhir SPPG Margomulyo juga mulai menyasar 49 ibu hamil dan 190 ibu menyusui. Untuk kelompok ini, MBG diberikan dalam bentuk menu kering yang dapat diambil untuk kebutuhan satu minggu.
“Distribusinya kami pusatkan di dapur SPPG dan Kantor Kapanewon Seyegan agar lebih terkontrol,” ungkap Hananto, Asisten Lapangan SPPG Margomulyo.
Sebagai SPPG Percontohan Nasional, Margomulyo juga menerapkan konsep Dapur Hijau. Pengelolaan limbah menjadi perhatian serius, mulai dari sampah basah hingga limbah cair.
“Sampah basah kami manfaatkan sebagai pakan maggot bekerja sama dengan Masjid Nurul Asri Deresan Yogyakarta. Sampah anorganik kami serahkan ke TPS3R Sleman, rencananya akan diolah menjadi biosolar,” terang Hananto


Sementara itu, limbah cair dari dapur diproses melalui lima bak penampungan, yang secara rutin disedot oleh jasa pengelola limbah setiap tiga minggu sekali.
Meski demikian, Joni mengakui masih ada satu sasaran MBG yang belum tersentuh, yakni balita.
“Ke depan, kami berharap MBG untuk balita bisa segera direalisasikan, karena kebutuhan gizinya juga sangat penting,” pungkasnya.
Dari dapur hijau hingga meja makan penerima manfaat, SPPG Margomulyo terus berupaya memastikan bahwa setiap porsi MBG bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi kesehatan masyarakat karena pemenuhan gizi yang tercukupi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)