Rumah Kompos Joglo Tani, Mengolah Limbah Jadi Pupuk Organik Unggulan
- Jan 13, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di Cibuk Kidul RT 01 RW 22, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Sleman, berdiri sebuah rumah produksi pupuk organik yang konsisten mendorong pertanian berkelanjutan. Tempat ini dikenal dengan nama Rumah Kompos Joglo Tani, yang memproduksi pupuk organik cair dan padat dengan merek Pupuk Organik Multi Plant.
Rumah produksi ini dikelola oleh CV Binangun Gemilang Sembada yang telah beroperasi sejak tahun 2015. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ini mempekerjakan empat orang karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi pupuk organik.
Saat ditemui di Rumah Produksi pada Senin (12/2/2026), Riyadi Wibowo yang lebih sering dipanggil Bowo, penanggung jawab produksi, menjelaskan bahwa bahan baku yang digunakan dipilih secara khusus untuk menjaga kualitas pupuk.
“Untuk pupuk organik padat, bahan utamanya adalah guwano atau kotoran kelelawar yang kami datangkan dari Ciamis. Yang kami pilih adalah kotoran kelelawar pemakan serangga karena kandungan haranya yaitu fosfat lebih tinggi,” jelas Bowo
Selain guwano, Rumah Kompos Joglo Tani juga menggunakan arang dari Sentolo, Kulon Progo, serta kotoran kambing dari wilayah Kali Gesing, Kulon Progo. Agar unsur hara semakin lengkap, pupuk organik padat ini ditambahkan zeolit, pasir pantai, dan dolomit.
Menurut Bowo, proses produksi pupuk cair memiliki karakteristik tersendiri dengan bahan baku yang cukup unik.
“Pupuk cair Multi Plant menggunakan urin kelinci yang kami datangkan dari Mojokerto, Jawa Timur. Bahan ini kami kombinasikan dengan isi usus sapi, empon-empon seperti jahe, lengkuas, kunyit, dan temulawak,” ungkapnya.

Tak hanya itu, bahan lain seperti guwano, batang pisang, dan enceng gondok juga dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk cair. Untuk memperkuat kualitasnya, ditambahkan bio arang sekam dan belerang sebagai unsur tambahan. Dalam sehari, proses produksi cukup terbantu dengan keberadaan mesin penggiling.
“Dengan satu alat chopper, kami bisa memproduksi sekitar empat ton per jam, itu pun dengan catatan bahan baku dalam kondisi benar-benar kering,” kata Bowo.
Namun demikian, ia mengakui bahwa proses produksi tidak selalu berjalan mulus. Ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan utama.
“Sebagian besar bahan baku berasal dari luar daerah. Kalau pas musim hujan, bahan sering tidak cukup kering, sehingga proses penggilingan terhambat,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, pemasaran Pupuk Organik Multi Plant terus berkembang dan telah menjangkau wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bowo menyebutkan bahwa pupuk ini memiliki keunggulan yang cukup diminati petani.
“Kandungan Nitrogen (N) dan Fosfat (P) dalam pupuk kami cukup tinggi, sehingga bisa digunakan untuk hampir semua jenis tanaman,” jelasnya.
Keunggulan lain yang membedakan produk ini adalah penggunaan urin kelinci sebagai bahan baku utama pupuk cair.
“Urin kelinci punya kandungan nitrogen yang bagus, ini jadi nilai lebih dibanding pupuk organik lainnya,” tambah Bowo
Tak hanya berperan dalam dunia pertanian, Rumah Kompos Joglo Tani juga menjadi ruang belajar bagi kalangan akademisi. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti UGM, UNY, UMY, dan UNDIP kerap datang untuk melakukan penelitian.
“Sudah banyak mahasiswa yang ke sini untuk riset dan penyusunan skripsi. Kami terbuka kalau tempat ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu,” tuturnya.
Dengan memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tinggi, Rumah Kompos Joglo Tani tak hanya mendukung pertanian ramah lingkungan, tetapi juga menjadi contoh nyata inovasi lokal yang berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)