Sadranan Agung Tumenggung Nitiprojo Gerjen, Melestarikan Tradisi Merawat Persaudaraan

  • Feb 15, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Bertempat di serambi Masjid Al Ittihad Gerjen, Sadranan Agung Tumenggung Nitiprojo digelar selama dua hari dengan penuh khidmat dan kebersamaan. Kegiatan diawali pada Jumat (13/2/2026) dengan Tahlil dan Birul Walidain Pengajian oleh KH. Nur Jamil. Acara kemudian dilanjutkan pada Sabtu (14/2/2026) sebagai puncak Sadranan Agung melalui pengajian Birul Walidain yang disampaikan oleh KH. Lubait Said dari Tempuran, Magelang.

Sadranan Agung merupakan tradisi Jawa berskala besar yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban) dalam kalender Hijriah. Tradisi ini bertujuan menghormati leluhur, membersihkan makam, serta mempererat tali silaturahmi antar warga. Sadranan Agung Nitiprojo sendiri menjadi agenda tahunan yang selalu diselenggarakan secara meriah dan penuh makna.

Selain pengajian sebagai kegiatan inti, rangkaian acara juga meliputi ziarah makam leluhur dan kebersamaan warga. Sesepuh warga, Sugeng Nugroho, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sadranan Agung merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas kesehatan serta bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya nguri-uri budaya.

“Sadranan Agung ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga sarana memperkuat rasa handarbeni antarwarga,” ujar Sugeng.
Ia menambahkan, “Kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi yang akan meneruskan kepada anak cucu kita.”
Sebagai sesepuh warga, Eko Puji Mulyanto, Lurah Margomulyo juga berkenan memberikan sambutannya.

Mengusung tema “Ngaruat leluhur ngraketake paseduluran”, kegiatan ini menjadi simbol persatuan warga dan pelestarian kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi. Antusiasme terlihat dari kehadiran para ahli waris dan warga yang datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Surabaya, Magelang, Temanggung, dan sejumlah kota lainnya di Pulau Jawa.

Momentum kebersamaan ini juga dimanfaatkan panitia untuk menggalang donasi pembangunan pagar makam dengan kebutuhan dana renovasi mencapai Rp100 juta. Ketua panitia dalam laporannya menyampaikan, “Kami mengajak seluruh ahli waris dan warga untuk bersama-sama gotong royong menyelesaikan pembangunan pagar makam sebagai bentuk tanggung jawab bersama.”

Dalam tausiyahnya, KH. Lubait Said menekankan bahwa makna silaturahmi dalam tradisi Sadranan Agung atau Nyadran sangatlah mendalam. Tidak sekadar pertemuan fisik, tetapi menjadi jembatan pengikat hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan leluhur.

“Silaturahmi dalam Sadranan ini adalah ikhtiar menyambung yang terputus, merekatkan yang renggang, dan menguatkan yang sudah terjalin,” tutur KH. Lubait Said.
Ia juga menegaskan, “Ketika kita mendoakan leluhur, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan untuk generasi setelah kita.”

Tradisi ini menjadi momen berkumpulnya kembali warga desa, baik yang menetap maupun yang merantau. Ikatan persaudaraan yang mungkin renggang karena kesibukan sehari-hari kembali terjalin erat. Jika dahulu puncak kebersamaan ditandai dengan kembul bujono atau makan bersama, dalam beberapa tahun terakhir panitia menggantinya dengan pembagian berkat berupa bahan makanan seperti beras, telur, mi instan, dan gula pasir kepada warga yang hadir. Seluruh bahan tersebut berasal dari swadaya masyarakat sebagai simbol persamaan derajat, gotong royong, dan berbagi rezeki.

Ziarah kubur atau besik juga menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Warga membersihkan makam leluhur dan mendoakan arwah agar mendapat tempat mulia di sisi Tuhan, sekaligus sebagai pengingat akan kematian dan pentingnya menjaga amal kebaikan.

Selain memperkuat hubungan spiritual, Sadranan juga mencerminkan harmoni antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam, selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Jawa. Tradisi ini turut mendidik generasi muda untuk mengenal sejarah asal-usul keluarga, menghormati leluhur, serta menjalin interaksi sosial yang baik dengan para sesepuh desa.

Secara keseluruhan, Sadranan Agung Nitiprojo menjadi kegiatan sosial-keagamaan yang memperkuat solidaritas warga, menumbuhkan kasih sayang, serta menjaga hubungan harmonis di tengah masyarakat. Kegiatan yang dihadiri kurang lebih 1.500 warga tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan diakhiri dengan pembagian berkat kepada seluruh peserta yang hadir. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)