"Sekolah Desa" di Jlegongan, Ketika ALam dan Buku Menjadi Guru

  • Jan 26, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas dengan bangku dan papan tulis. Di sebuah dusun di Sleman, gagasan itu hidup dan tumbuh melalui sebuah Sekolah Desa yang berpijak pada kesederhanaan, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.
Dengan motto “Semua orang adalah guru, alam raya sekolahku”, Syaeful Cahyadi menghadirkan ruang pendidikan alternatif yang ramah anak dan berpihak pada desa. Baginya, pendidikan tidak boleh terkungkung oleh tembok sekolah.
“Saya ingin anak-anak tahu bahwa belajar itu tidak harus selalu di ruang kelas. Alam, lingkungan sekitar, dan siapa pun di desa ini bisa menjadi guru. Dari situlah Sekolah Desa ini saya bangun,” ujar Syaeful yang sekarang kerja sebagai Tenaga Kependidikan di UGM, Minggu (25/1/2026).


Perjalanan Syaeful sebagai penggerak literasi desa dimulai sepuluh tahun lalu. Tepatnya di Dusun Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, ia membuka Perpustakaan Umum tingkat Padukuhan di teras rumahnya. Dari ruang sederhana itu, ia mulai mengumpulkan buku-buku yang dikelompokkan ke dalam pengetahuan umum, buku populer, novel, majalah anak, hingga mainan edukatif.
“Awalnya sangat sederhana, hanya teras rumah dan beberapa buku. Tapi saya percaya, kalau akses bacaan dibuka, minat belajar anak-anak akan tumbuh dengan sendirinya,” kenangnya.
Seiring waktu, keberadaan perpustakaan ini tidak hanya dikenal di tingkat padukuhan dan kalurahan, tetapi juga meluas hingga tingkat provinsi bahkan luar provinsi. Hal tersebut tidak lepas dari keterlibatan Syaeful dalam Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) yang membawanya aktif di jejaring literasi tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Upaya yang dilakukan Syaeful pun mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk dukungan sarana dari Dinas Pendidikan dan keikutsertaan dalam lomba Taman Baca oleh Dinas Perpustakaan.
Atas konsistensi dan kerja kerasnya, Syaeful yang lulusan Sarjana Sastra Inggris itu menorehkan sejumlah prestasi, di antaranya Pemuda Pelopor Tingkat DIY tahun 2019, Apresiasi TBM Kreatif Rekreatif Kemendikbud tahun 2021, serta dipercaya menjadi Anggota Dewan Pendidikan Sleman periode 2025–2030.


Pada tahun 2022, perpustakaan tersebut berkembang menjadi Sekolah Desa. Program ini menjadi bagian dari perpustakaan umum yang selama ini dijalankan. Selain layanan baca dan pinjam buku, Sekolah Desa menghadirkan pembelajaran terjadwal dan ruang kolaborasi. Ruang ini menjadi wadah pertemuan anak-anak dengan pihak luar untuk berkegiatan bersama. Salah satu kolaborasi yang pernah dilakukan adalah kegiatan bersama Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan tema pengenalan serangga yang diikuti sekitar 20 anak.
Kegiatan Sekolah Desa dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan jadwal dua kali kelas Bahasa Inggris, satu kali kelas tari klasik, dan satu kali kelas umum. Peserta kegiatan berjumlah sekitar 12–14 anak yang berasal dari siswa Sekolah Dasar kelas 2 hingga kelas 6. Pada tahun 2024, Sekolah Desa memperoleh hibah dari sebuah LSM asal Australia yang dimanfaatkan untuk pengadaan rak, buku, sarana penunjang, serta honor bagi para pengajar.
Meski demikian, perjalanan Sekolah Desa tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah belum adanya dukungan kebijakan terkait pemanfaatan dana desa untuk kegiatan perpustakaan dan Sekolah Desa. Selain itu, cara pandang sebagian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan juga masih menjadi pekerjaan rumah.

“Tantangan terbesarnya adalah cara pandang masyarakat yang masih menganggap pendidikan belum terlalu penting. Harapan saya, ke depan ada dukungan kebijakan dan keterlibatan lebih banyak pihak untuk mendorong pendidikan anak-anak desa,” ungkap Syaeful yang menulis buku berjudul Dari Balik Pusara (2023).
Ke depan, Syaeful juga membuka ruang keterlibatan Karang Taruna untuk memfasilitasi kegiatan anak-anak melalui program kepemudaan. Dari teras rumah di Dusun Jlegongan, Sekolah Desa terus tumbuh sebagai bukti bahwa pendidikan dapat hadir dari niat baik, kolaborasi, dan keyakinan bahwa setiap ruang dapat menjadi tempat belajar yang bermakna. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)