Sleman Berpacu Atasi Krisis Sampah, Rapor 2020-2025 Jadi Alarm Perubahan Strategi
- Apr 09, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Kabupaten Sleman menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan rapor kinerja pengelolaan sampah periode 2020–2025, masih terdapat persentase signifikan sampah yang belum terkelola secara optimal. Kondisi ini menjadi sinyal kuat perlunya strategi baru yang lebih terpadu dan berkelanjutan.
Permasalahan sampah di Sleman kian kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas masyarakat. Hal ini menuntut keterlibatan semua pihak—mulai dari masyarakat, pemerintah kalurahan, hingga para pemangku kepentingan—dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.
Hal tersebut disampaikan oleh Dias Oktri Raka Setiadi, S.Si, Koordinator Pendamping Kawasan DLH Kabupaten Sleman, dalam kegiatan Workshop Training of Trainers (TOT) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) tahun 2026 yang digelar di Ruang Kerinci Hotel dan Convention Prima SR pada hari Rabu (8/4/2026). Kegiatan itu sendiri diikuti oleh 33 peserta dari wilayah Sleman Barat, meliputi Kapanewon Seyegan, Godean, Minggir, dan Moyudan.
Dalam paparannya, Dias menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pengelolaan sampah.
“Permasalahan sampah menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan sampah yang terpadu dengan melibatkan berbagai pihak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi di sekitar TPA Piyungan yang telah ditutup. Menurutnya, sistem open dumping yang selama ini digunakan menimbulkan berbagai dampak negatif.
“Open dumping menimbulkan banyak permasalahan seperti bau, munculnya vektor penyakit, lindi, hingga persoalan estetika lingkungan,” jelas Dias.
Lebih lanjut, ia mengingatkan potensi bahaya gas metana.
“Gas CH4 dapat menimbulkan risiko ledakan sekaligus berkontribusi sebagai gas rumah kaca,” tambahnya.
Selain itu, praktik pembakaran sampah yang tidak sesuai aturan juga berbahaya. “Pembakaran yang tidak sesuai ketentuan dapat menghasilkan dioksin dan furan yang berbahaya bagi kesehatan,” tegasnya.
Dias juga memaparkan data timbulan sampah rumah tangga Kabupaten Sleman tahun 2025. Dengan asumsi setiap individu menghasilkan 0,36 kg sampah per hari, komposisi sampah masih didominasi oleh sampah organik sebesar 52 persen.
Sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku, pemerintah daerah mendorong gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
“Gerakan ASRI dilaksanakan rutin setiap Selasa dan Jumat sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan di instansi pemerintah dan perkantoran,” jelas Dias.
Untuk memperkuat edukasi masyarakat, dibentuklah P3S di 17 kawasan, 17 kapanewon dan 86 kalurahan. Program ini melibatkan berbagai elemen seperti relawan JPSM Sehati, Asosiasi TPS3R Resep, serta anggota Pramuka Saka Kalpataru.
Dias menekankan bahwa pendampingan ini memiliki target konkret.
“Kami menargetkan satu padukuhan memiliki satu KPSM, baik berupa bank sampah, sedekah sampah, maupun TPS3R,” ungkapnya.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Platform Siosestu turut dimanfaatkan sebagai sarana operasional, monitoring, evaluasi, dan pelaporan.
“Melalui Siosestu, KPSM dapat terdaftar secara resmi di DLH dan memudahkan proses pemantauan,” imbuhnya.
Dias menegaskan bahwa kegiatan TOT ini merupakan langkah awal bagi para pendamping.
“TOT ini adalah tahapan awal untuk membekali pendamping dalam melakukan fasilitasi dan pendampingan di lapangan sesuai target yang telah ditetapkan,” katanya.
Selama masa kontrak sembilan bulan, program kerja yang akan dilakukan meliputi sosialisasi di 17 kapanewon, fasilitasi pembentukan KPSM baru, serta monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah.
Di akhir pemaparannya, Dias menjelaskan indikator kinerja yang akan dicapai. “Keberhasilan pendampingan diukur dari KPSM yang terdaftar dan aktif, peningkatan persentase pengolahan sampah dalam SIPSN, serta jumlah KPSM yang mampu masuk 50 besar,” pungkasnya.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Kabupaten Sleman diharapkan mampu meningkatkan kinerja pengelolaan sampah sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)