Strategi Bisnis Wisata Edukasi "Single Product - Multi Income" Ala Hartono

  • Jan 17, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Hartono adalah sosok pelaku wisata yang jeli membaca perubahan perilaku pasar. Ia menyadari bahwa wisatawan masa kini tidak lagi cukup hanya disuguhi pemandangan indah dan spot foto.
“Orang datang ke desa wisata itu bukan cuma mau lihat-lihat atau foto. Mereka ingin pulang membawa pengalaman,” ujar Hartono  yang ditemui di rumahnya di Babrik Jamblangan Margomulyo pada hari Jum'at (16/1/2026).
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan konsep wisata edukasi yang ia kembangkan secara konsisten. Hingga kini, tujuh destinasi wisata edukasi telah menjadi bukti keberhasilannya dalam menangkap pasar.


Empat destinasi berada di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Dolan Ndeso (Boro), Wana Delima (Pengasih), Omah Penthul (Wates), dan Ono Kaline (Kalibawang). Satu destinasi berada di Kabupaten Sleman, yakni Kali Klangsi (Seyegan) dan dua destinasi lainnya berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan tema edukasi hutan dan edukasi mangrove.
Tema utama yang diusung meliputi edukasi lingkungan, pertanian, dan perkebunan, yang kemudian dikemas dalam paket kegiatan berbasis pengalaman.
“Wisata edukasi itu harus bisa disentuh dan dilakukan. Kalau cuma dilihat, nilai belajarnya kurang,” kata Hartono.


Salah satu segmen yang paling serius digarap adalah dunia pendidikan, khususnya program pembelajaran luar ruang (outdoor learning) sebagai pembentukan karakter. Paket wisata disusun menyesuaikan kebutuhan sekolah, mulai dari PAUD hingga SMA.
“Sekolah itu sebenarnya pasar yang sangat jelas. Mereka butuh tempat belajar di luar kelas, dan desa punya semua itu,” ungkapnya.
Dengan pendekatan tersebut, wisata edukasi tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ruang belajar alternatif.
Dalam pengelolaan, Hartono membedakan antara kerja sama dan kemitraan. Kerja sama berkaitan dengan lahan dan lokasi destinasi, sedangkan kemitraan menyangkut operasional paket wisata.
“Saya tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Justru kekuatan wisata edukasi itu ada pada warga desa,” jelasnya.


Pemandu wisata berasal dari masyarakat setempat, karang taruna dilibatkan dalam aktivitas lapangan, kelompok ibu-ibu mengelola kuliner, sementara parkir dan fasilitas pendukung dikelola oleh warga sekitar.
“Kalau warga dapat manfaat, destinasi akan dijaga bersama,” tambah Hartono.
Model ini menciptakan dampak ekonomi langsung, memperpanjang umur destinasi, sekaligus meminimalkan konflik sosial.
Secara manajerial, Hartono menerapkan sistem yang efisien. Ia hanya mempekerjakan empat orang inti yang menangani keuangan dan administrasi, pengelolaan tamu, pengelolaan mitra, serta paket dan fasilitas.
“Manajemen harus ramping, tapi dampaknya harus luas,” tegasnya.


Operasional lapangan sepenuhnya dijalankan bersama mitra lokal, sehingga biaya tetap terkendali dan manfaat ekonomi menyebar.
Sebagai bagian dari strategi bisnis, Hartono menerapkan konsep “single product – multi income”, yakni menjual proses sebagai bagian dari edukasi.
Pengunjung tidak hanya belajar menanam, tetapi juga membeli bibit, pupuk, dan membawa pulang tanaman hasil semaian. Hal yang sama berlaku pada edukasi perikanan dan peternakan, di mana pengunjung membeli pakan ikan, pakan kambing, atau bibit padi.
“Yang dijual bukan cuma hasil, tapi proses belajarnya. Di situ nilai ekonominya muncul,” kata Hartono.


Meski demikian, pengembangan wisata edukasi bukan tanpa tantangan. Adaptasi masyarakat desa terhadap konsep baru membutuhkan waktu.
“Tidak semua langsung menerima. Perlu proses, dialog, dan kesabaran,” ujarnya.
Hartono menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh mengorbankan kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau desa rusak secara sosial, wisatanya juga tidak akan bertahan lama,” pungkasnya.
(Sutarto Agus/KIM Seyegan)