Sumitro, Penjaga Nafas Seni Tradisional Ditengah Gempuran Zaman

  • Jan 22, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Di usia 65 tahun, Sumitro masih setia menjaga denyut seni tradisional Badui, Kuntulan, dan Kubro di wilayahnya, di Padukuhan Gerjen Kalurahan Margomulyo Kapanewon Seyegan. Kesenian yang telah diwariskan lintas generasi ini mengandalkan alat musik jedor dan rebana, yang kini ia padukan dengan sentuhan drum agar lebih dekat dengan selera generasi muda. Meski dimodifikasi, Sumitro menegaskan ada pakem yang tidak boleh ditinggalkan.


“Empat unsur utama itu tidak boleh hilang, yaitu musik, penari, kostum, dan vokal. Ciri khasnya juga harus tetap ada, kupluk Turki itu wajib,” ujar Sumitro yang ditemui di Sekretariat Paguyuban Kesenian Badui "Ria Remaja" Gerjen pada hari Rabu (21/1/2026).
Seni tradisional Badui, Kuntulan, dan Kubro adalah bentuk kesenian rakyat yang berkembang di pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang memadukan unsur seni tari, musik rebana, dan sering kali disertai nuansa Islami (sholawatan/pujian kepada Nabi) serta gerakan pencak silat. Ketiganya sering dipentaskan dalam acara syukuran, hajatan, atau perayaan hari besar Islam.


Dalam satu pementasan, kesenian ini dimainkan oleh sedikitnya 16 orang dengan durasi pertunjukan mencapai tiga hingga empat jam. Bagi Sumitro, panjangnya durasi bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ruh pertunjukan tradisional yang sarat nilai kebersamaan dan spiritualitas.
Sumitro menyadari, tantangan terbesar dalam menjaga seni tradisional adalah regenerasi. Banyak kelompok seni yang kini vakum karena para pelakunya telah tumbuh dewasa dan disibukkan oleh pekerjaan serta urusan keluarga.
“Banyak seni tradisional yang akhirnya berhenti karena pemainnya sudah sibuk masing-masing. Anak mudanya tidak ada yang meneruskan,” tuturnya.


Sumitro tidak sendiri, sebagai penjaga nafas seni tradisional membutuhkan energi baru untuk segera bangkit kembali pasca covid 19 yang menurut Sumitro merupakan titik puncak kevakuman.
Di sisi lain, kesenian modern menawarkan daya tarik yang begitu kuat. Akses yang mudah, kemasan yang kekinian, serta variasi tanpa batas membuat generasi muda lebih akrab dengan budaya populer dibanding seni tradisional.
“Sekarang hiburan modern itu tinggal buka HP. Anak-anak muda lebih tertarik karena terlihat keren dan mengikuti zaman,” kata Sumitro yang pernah dua kali menampilkan kesenian Badui di bantaran sungai Code dalam rangka  penentuan sumbu filosofi/imajiner Yogyakarta itu .
Meski berada di tengah arus tersebut, Sumitro tetap optimistis. Ia percaya seni tradisional masih memiliki ruang hidup, asalkan terus dihidupkan melalui regenerasi yang berjenjang dan tidak terputus. Modifikasi pun ia lakukan dengan hati-hati.
“Saya tidak anti perubahan, tapi jangan sampai keluar dari substansi. Modifikasi itu hanya jembatan supaya remaja mau mendekat,” ujarnya.


Harapannya, seni Badui, Kuntulan, dan Kubro dapat menjadi wadah kegiatan positif bagi generasi muda dalam melestarikan budaya tradisional. Namun kenyataan di lapangan belum sepenuhnya menggembirakan. Ketertarikan remaja masih sebatas sebagai penonton.
“Mereka senang menonton, tapi masih enggan jadi pelaku. Padahal seni ini butuh penerus,” ucapnya dengan nada prihatin.
Separuh hidupnya telah Sumitro dedikasikan untuk melestarikan seni tradisional. Ia juga aktif mengikuti lomba video kebudayaan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan sebagai upaya memperkenalkan kesenian ini ke ruang yang lebih luas.
“Kalau tidak kita dokumentasikan dan kenalkan, seni ini bisa benar-benar hilang,” katanya.


Sumitro berharap ada sinergi yang lebih kuat dengan pemerintah dan berbagai pihak. Menurutnya, pelestarian seni tradisional harus dibarengi dengan upaya profesionalisasi agar para pelaku seni juga mendapatkan penghasilan yang layak.
“Kalau pelaku seninya bisa hidup dari kesenian ini, pelestarian akan berjalan. Seni tradisional jangan hanya dijaga, tapi juga dihargai,” pungkas Sumitro. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)