Suwandi Perkuat Gerakan Literasi Jamaah, Sasar Remaja Masjid dan Peran Ayah
- Dec 24, 2025
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Suwandi, penggagas gerakan literasi jamaah berbasis nilai Iqro’ (bacalah), terus mengembangkan ikhtiar literasi di tengah masyarakat. Setelah memulai gerakan dari kalangan ibu-ibu, kini ia merancang penguatan literasi untuk remaja masjid sebagai ruang pembelajaran dan pembentukan karakter generasi muda.
“Remaja masjid perlu diberi ruang untuk membaca, menulis, dan berbagi kisah berhikmah. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat literasi dan peradaban,” ujar Suwandi saat ditemui di rumahnya.
Menurutnya, gerakan literasi remaja masjid akan difokuskan pada kegiatan menulis refleksi keagamaan, dokumentasi kegiatan masjid, wawancara tokoh serta diskusi buku yang menumbuhkan daya kritis dan kepekaan sosial. Ia menegaskan bahwa semangat literasi harus membumi dan dekat dengan realitas kehidupan remaja.
“Menulis itu merawat ingatan dan menebar hikmah. Setiap orang punya kisah yang bisa menjadi pelajaran bagi yang lain,” tambahnya.
Suwandi juga menekankan pentingnya keseimbangan peran keluarga dalam gerakan literasi. Selain aktif mendorong ibu-ibu menulis dan membaca, ia menulis sebuah esai berjudul Wahai Ayah Berperanlah sebagai ajakan kepada para ayah untuk terlibat aktif dalam pendidikan literasi anak.
“Selama ini tulisan ibu-ibu sangat kuat. Maka ayah juga harus hadir, memberi teladan membaca, berdialog, dan menulis bersama anak-anaknya,” ungkap Suwandi.
Suwandi sendiri sebelum purna tugas sebagai pendidik di MAN Yogyakarta III (Mayoga), dikenal aktif membimbing KIR dan KSJ (Kelompok Studi Jurnalistik), dengan torehan prestasi hingga 15 kali juara LKTI. Ia juga pernah menjabat Editor Majalah Bakti Humas Kanwil Kemenag Provinsi DIY, serta berperan sebagai penatar Metodologi Iqro’ TKA–TPA Provinsi DIY dan Dewan Hakim MTQ Kabupaten Sleman.
Lulusan S1 Fisika IKIP Negeri Yogyakarta dan S2 Fisika IKIP Negeri Bandung ini juga merupakan penulis karya ilmiah dan fiksi serta pemakalah seminar nasional dan internasional. Semangat literasinya berpijak pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, “Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru.”
Kini Suwandi menetap di Mrincingan, Padukuhan Jumeneng, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Suwandi terus merajut gerakan literasi melalui dakwah, tulisan, dan buku antologi kisah berhikmah yang menjadi ruang berbagi nilai dan pengalaman hidup. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)