Syawalan, Silaturahmi dan Seni Berkomunikasi: Merawat Harmoni Keluarga Lintas Generasi
- Apr 10, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Momentum bulan Syawal kembali dimaknai sebagai ruang mempererat jalinan keluarga dan memperhalus cara berkomunikasi antar generasi. Hal ini mengemuka dalam Pengajian Keluarga Besar Muhammadiyah Ranting Margokaton yang digelar di Masjid Syuhada Planggok, Seyegan, Sleman.
Sekretaris Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja, mengajak masyarakat menjadikan Syawal sebagai titik tolak memperkuat silaturahmi, terutama dengan kerabat yang jarang ditemui.
“Mumpung masih bulan Syawal, kita pererat lagi silaturahmi kita dengan kerabat kita yang jauh,” ujarnya.
Menurutnya, silaturahmi bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi memiliki nilai substansial dalam ajaran Islam. Selain mempererat hubungan sosial, silaturahmi juga diyakini membawa dampak spiritual, seperti kelapangan rezeki dan keberkahan umur. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan hubungan keluarga agar tidak terputus.
“Jangan sampai kita kehilangan kepaten obor atau terputusnya hubungan silaturahmi, sehingga seseorang menjadi sebatang kara karena kurang menjalin hubungan,” tegasnya.
Dalam konteks budaya Indonesia, tradisi silaturahmi saat Syawal juga sarat dengan nilai saling memaafkan. Generasi muda meminta maaf, sementara generasi yang lebih tua memberi maaf dan restu sebagai bekal kehidupan ke depan.
“Yang muda meminta maaf, yang tua memaafkan, dan memberi restu untuk kebaikan-kebaikan ke depannya. Ini budaya yang perlu dilestarikan,” jelasnya.
Namun demikian, Isngadi menyoroti pentingnya sensitivitas dalam komunikasi antar generasi. Ia mengingatkan bahwa perbedaan karakter, khususnya pada generasi muda, menuntut pendekatan yang lebih empatik dan bijak.
Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dianggap lumrah dalam suasana kekeluargaan, seperti soal pekerjaan, pernikahan, atau kondisi pribadi, bisa saja memicu ketidaknyamanan, bahkan tekanan psikologis.
“Pertanyaan-pertanyaan itu bagi sebagian orang mungkin biasa, tetapi bagi generasi sekarang bisa menimbulkan stres dan perasaan tidak nyaman,” ungkapnya.
Ia menambahkan, generasi muda saat ini memiliki wawasan luas dan kecerdasan yang baik, namun juga cenderung lebih sensitif secara emosional. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih dalam agar komunikasi tetap terjaga secara sehat dan konstruktif.
“Anak-anak muda sekarang memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, penting bagi kita untuk menyesuaikan cara berkomunikasi, termasuk menghindari pertanyaan yang berpotensi menyulitkan atau menyakitkan,” tandasnya.
Melalui pengajian ini, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga tradisi silaturahmi, tetapi juga mampu membangun interaksi yang lebih inklusif, adaptif, dan selaras dengan perkembangan zaman. Upaya ini menjadi bagian penting dalam merawat keharmonisan keluarga sekaligus memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)