Trapsila, Bertahan Sebagai Pengrajin Songkok di Separuh Hidupnya
- Feb 26, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Selama 23 tahun, Trapsila (55) setia menekuni profesinya sebagai pengrajin songkok atau peci. Perjalanannya dimulai dari membantu menjualkan songkok dan bekerja sama dengan produsen merek Serambi Mekah yang kala itu laris di pasaran. Dari pengalaman tersebut, ia tergerak untuk terjun langsung menjadi pengrajin.
“Awalnya saya hanya ikut menjualkan. Karena permintaannya bagus, saya berpikir kenapa tidak mencoba produksi sendiri,” ujar Trapsila.
Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Kini, dengan tiga karyawan, Trapsila mampu menerima pesanan hingga 1.000 buah songkok. Sistem produksi dilakukan secara home industry. Proses pembuatan utama dikerjakan di Kebumen sebagai rumah produksi.
“Ongkos produksinya terlalu mahal kalau dikerjakan di Yogya. Jadi untuk jahit dan perakitan kami kerjakan di Kebumen,” jelasnya.
Rumah tinggalnya yang beralamat di Padukuhan Barak I, RT 5 RW 15, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, dimanfaatkan sebagai tempat finishing dan pengepakan. Sementara itu, proses bordir dilakukan di wilayah Tempel.
Dalam proses produksi, bahan yang digunakan meliputi kain bludru, rajangan (karton), SAB, dan saringan. Setiap pengrajin mampu menghasilkan sekitar 5 kodi atau 100 buah per minggu. Tinggi songkok umumnya 8–9 cm, dengan ukuran 1–4 untuk anak-anak dan 5–12 untuk dewasa. Namun, Trapsila juga melayani pesanan ukuran khusus.
“Kalau ada permintaan ukuran tertentu, kami sesuaikan. Biasanya untuk satu kodi butuh waktu sekitar 10 hari,” katanya.
Trapsila memproduksi dua merek, yaitu Nur Imam dan Khasanah. Untuk merek Nur Imam, ia menggunakan bludru impor dari Korea, sedangkan merek Khasanah menggunakan bludru asal Cirebon.
“Untuk Nur Imam, kami pakai bahan yang kualitasnya lebih premium. Kalau Khasanah lebih menyesuaikan pasar menengah, tapi tetap kami jaga kualitasnya,” ungkapnya.
Produk-produknya dipasarkan di berbagai toko di wilayah Sleman, Yogyakarta, Bantul, dan Wates. Bahkan, songkok produksinya pernah dikirim hingga Halmahera, Maluku, untuk kebutuhan anak sekolah.
Dengan rentang harga Rp25.000 hingga Rp40.000, baik polos maupun bermotif bordir, songkok buatan Trapsila cukup diminati pasar. Penjualan meningkat signifikan saat bulan Ramadan, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dibanding bulan biasa. Pada periode tersebut, omzetnya dapat menembus Rp20 juta.
“Kalau Ramadan, pesanan bisa dua kali lipat. Alhamdulillah, omzet bisa sampai Rp20 juta,” tuturnya.
Di tengah persaingan produk sejenis, Trapsila tetap mampu bertahan. Baginya, kunci utama adalah ketekunan dan kemampuan membaca selera pasar.
“Kita harus tekun dan mengikuti selera konsumen. Model dan motif harus terus menyesuaikan. Itu bagian dari inovasi supaya tetap diminati,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)