Tukimun dan Agensia Hayati: Bertani Dengan Menjaga Keseimbangan Alam
- Jan 15, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Berbicara mengenai agensia hayati tidak bisa dilepaskan dari sosok Tukimun, petani unggulan asal Padukuhan Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Di tengah arus pertanian modern yang masih bergantung pada pestisida sintetis, Tukimun memilih jalan berbeda: bertani dengan menjaga keseimbangan alam.
Agensia hayati sendiri merupakan bahan yang berasal dari alam dan dimanfaatkan untuk membantu budidaya pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Tukimun mulai mengenal konsep ini sejak tahun 2005. Ketertarikannya muncul dari kegelisahan melihat dampak jangka panjang penggunaan pestisida kimia.
“Saya mulai mengenal agensia hayati sejak tahun 2005, tapi baru benar-benar mengembangkannya secara serius sekitar tahun 2008. Waktu itu saya ingin mencari cara bertani yang tidak merusak lingkungan,” ujar Tukimun yang ditemui di rumahnya pada hari Rabu (14/1/2026). Sejak 2008, ia mulai mengembangkan agensia hayati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Akar bambu, akar tumbuhan putri malu, alang-alang, rumput gajah, hingga berbagai tumbuhan liar lainnya menjadi bahan utama.
“Semua bahan saya ambil dari alam sekitar. Alam sebenarnya sudah menyediakan solusi, tinggal bagaimana kita mau belajar dan memanfaatkannya dengan benar,” katanya.
Dalam proses pengembangannya, Tukimun mendapat pendampingan dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) yang berkantor di Pandak, Bantul. Selain pendampingan teknis, BPTP juga memberikan starter atau isolat sebagai bahan awal pengembangan agensia hayati. Keunggulan agensia hayati ini terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan, mampu menekan penggunaan pestisida, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan aman dikonsumsi.
Namun, hasil tersebut tidak diraih secara instan. Tukimun membutuhkan waktu sekitar empat tahun hingga sistem produksi dan pemanfaatan agensia hayati benar-benar stabil.
“Tidak instan. Saya butuh sekitar empat tahun sampai hasilnya stabil. Banyak yang meragukan, tapi saya yakin kalau ekosistem diperbaiki, tanaman akan lebih sehat,” ungkapnya.
Tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial. Agensia hayati belum populer di kalangan petani senior yang sudah terbiasa dengan pestisida kimia. Sementara itu, generasi muda atau petani milenial cenderung enggan terjun ke dunia pertanian.
“Petani yang sudah tua sulit menerima hal baru, sementara anak muda banyak yang tidak mau jadi petani. Akhirnya ya saya jalani sendiri dulu,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Tukimun menjadi satu-satunya petani di wilayahnya yang secara konsisten mengembangkan dan memproduksi agensia hayati. Seiring berjalannya waktu, rumah Tukimun di Jlegongan pun berkembang menjadi rumah produksi agensia hayati sekaligus pusat pembelajaran.
“Rumah ini saya buka untuk siapa saja yang mau belajar. Kalau ilmunya dibagi, manfaatnya justru akan lebih luas,” kata Tukimun.
Rumah produksi ini tidak hanya menjadi tempat pembuatan agensia hayati, tetapi juga difungsikan sebagai tempat pelatihan, studi tiru, dan rujukan penanganan hama berbasis bahan alami. Kerja sama dengan perguruan tinggi pun terjalin, salah satunya dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mahasiswa semester IV Jurusan Agroteknologi secara rutin melakukan field trip untuk mempelajari pertanian ramah lingkungan dan teknik perkembangbiakan jamur.
Di bawah bendera CV Puspita Jaya Makmur, Tukimun mengembangkan berbagai produk unggulan agensia hayati, antara lain Beauveria bassiana, Trichoderma, serta pelatihan pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Corynebacterium sp.
Ketekunan dan konsistensi Tukimun membuahkan pengakuan luas. Ia tercatat sebagai Petani Berprestasi Kabupaten Sleman tahun 2014, Petani Berprestasi tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan Kabupaten Sleman tahun 2016, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan tingkat DIY tahun 2017, dan Juara I Kategori Perintis Lingkungan dalam Lomba Lingkungan Hidup tingkat Kabupaten tahun 2018 serta masih banyak lagi prestasi yang dihasilkan.
Bagi Tukimun, bertani bukan semata mengejar hasil produksi, melainkan upaya memperbaiki lingkungan dan menjaga ekosistem.
“Bertani itu bukan melawan alam, tapi menyeimbangkan. Kalau musuh alami dan hama seimbang, pestisida tidak perlu digunakan berlebihan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Regu Proteksi Tanaman, Tukimun memiliki visi memperluas penggunaan agensia hayati dalam pengendalian hama melalui produk-produk inovatif yang ramah lingkungan.
“Harapan saya sederhana, agensia hayati bisa digunakan lebih luas supaya lingkungan terjaga dan petani tetap sejahtera,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)