Warjoko, Potret Cerah Petani Tulen yang Bekerja Dengan Hati

  • Feb 06, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Di tengah hamparan sawah Pundong IV RT 01 RW 08, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Mlati, Sleman, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyatu dengan kehidupan pertanian. Di sanalah Warjoko (69) menjalani hari-harinya sebagai petani dan peternak, pekerjaan yang telah ia tekuni lebih dari separuh hidupnya.

Ditemui di rumahnya yang berada di tengah sawah pada Kamis (5/2/2026), Warjoko menyambut dengan kesederhanaan khas petani. Meski usia tak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Ia dengan lancar bercerita tentang jati dirinya sebagai petani tulen yang bekerja dengan hati.
“Saya ini dari dulu ya petani, Mas. Hidup saya ya di sawah dan kandang,” ujarnya sambil tersenyum.

Perjalanan hidup Warjoko tidak langsung mulus. Ia memulai dari bawah sebagai buruh tani. Baru pada usia 35 tahun ia memutuskan untuk mandiri. Keputusan tersebut dilandasi kecintaannya pada dunia pertanian dan peternakan. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, ketekunan dan konsistensinya mengantarkannya pada kehidupan yang cukup dan mandiri.
“Sekolah saya cuma SD, tapi kalau kerja itu harus sungguh-sungguh. Kalau ditekuni, insyaallah cukup,” tuturnya.

Di atas lahan seluas sekitar 750 meter persegi, rumah Warjoko berdiri sekaligus difungsikan sebagai kandang ternak. Ia memelihara sembilan ekor sapi, tujuh ekor kambing gibas, 21 ekor bebek, 14 ekor menthok, serta 20 ekor ayam Jawa. Selain itu, Warjoko juga mengelola lahan pertanian seluas kurang lebih 800 meter persegi. Kepemilikan ternak dan lahan tersebut menjadi bukti kesuksesan yang ia raih dari kerja keras bertahun-tahun.

Di samping rumahnya, dua gerobak sapi terparkir rapi. Gerobak itu setia menemaninya saat membeli borongan padi maupun kacang tanah di sawah atau yang dikenal dengan istilah nebas. Aktivitas tersebut rutin dilakukan, selain kegiatan pagi hari menggiring bebek-bebeknya menyusuri sawah dan parit yang tak jauh dari rumah.

Dalam menjalankan rutinitas, Warjoko dibantu oleh istri, anak, menantu, dan cucunya. Pembagian tugas telah berjalan dengan baik dan dilakukan dengan penuh kebersamaan. Mulai dari mengurus ternak hingga mencari pakan berupa odot, kolonjono, damen, dan rendeng di sawah. Untuk kebutuhan komboran, Warjoko masih harus membeli sentrat, ampas ketela, dan bekatul dengan biaya sekitar Rp500 ribu per minggunya.
“Dikerjakan bareng-bareng itu rasanya ringan. Saya jalani senang saja, tidak pernah merasa berat,” katanya.

Soal pendapatan, Warjoko tidak pernah menghitung secara pasti. Perputaran uang dari penjualan sapi, kambing, menthok, telur bebek, dan ayam digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika ada kelebihan, ia manfaatkan untuk pengembangan usaha. Sikap menerima dan apa adanya membuat Warjoko tidak pernah bersentuhan dengan jasa perbankan.

Kepada generasi muda, Warjoko berpesan agar fokus dan tekun dalam bekerja. Menurutnya, pekerjaan harus dijalani dengan rasa senang agar bisa menjiwai prosesnya.
“Kalau kerja itu jangan cuma ikut keinginan. Begitu bosan, nanti ditinggal. Harus senang dulu sama pekerjaannya,” pesannya.

Selain bertani dan beternak, Warjoko juga memiliki aktivitas lain yang kini menjadi bagian dari pertunjukan wisata. Ia tergabung dalam kelompok gerobak wisata “Manunggal Lestari”, yakni kelompok pengendali gerobak sapi atau yang dikenal dengan istilah bajingan (akronim dari Baguse jiwo angen-angen ing Pangeran) di wilayah Sleman Barat.

Kelompok tersebut menjalin kemitraan dengan destinasi wisata Rumah Kecebong di wilayah Mlati. Warjoko bersama anggota lainnya kerap membawa wisatawan domestik maupun mancanegara berkeliling menikmati keindahan alam pedesaan dengan menaiki gerobak sapi. Dengan difasilitasi busana surjan dan blangkon serta uang jasa dari pihak pengelola wisata, mereka rata-rata mendapat order sekitar empat kali dalam sebulan. Untuk menjaga kekompakan, Manunggal Lestari rutin menggelar pertemuan selapanan yang diisi dengan arisan dan rembug kelompok.

Warjoko adalah buku terbuka. Dari cara bertutur hingga caranya menjalani kehidupan, kita dapat membaca semangat, ketekunan, dan dedikasi seorang petani yang mencapai kesuksesan bukan dengan keluhan, melainkan dengan kerja keras dan ketulusan hati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)