Dwiyanto, Penjaga Napas Anyaman Mendong Plembon

  • Jun 25, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Bicara tentang mendong di Sleman, nama Padukuhan Plembon di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir, seolah tak bisa dilepaskan. Padukuhan ini dikenal sebagai sentra pengrajin mendong yang hasil anyamannya telah menembus berbagai daerah di Indonesia. Di balik geliat kerajinan itu, ada sosok Dwiyanto, seorang dukuh yang hingga kini setia menjaga denyut kehidupan anyaman mendong.

Di rumah yang luas sekaligus menjadi sentra kerajinan, Dwiyanto masih tekun menerima pesanan, mengawasi proses produksi, hingga sesekali melatih warga membuat anyaman. Usianya kini 58 tahun, namun semangatnya menjaga warisan budaya lokal belum surut.

“Kerajinan mendong ini bukan sekadar pekerjaan, tapi sudah menjadi bagian hidup masyarakat Plembon,” ujar Dwiyanto sambil menunjukkan beberapa produk anyaman hasil karya para pengrajin.

 

Perjalanan hidup Dwiyanto sebenarnya tidak langsung membawanya menjadi pengrajin mendong. Alumni ABA Yogyakarta jurusan Bahasa Inggris ini pernah bekerja sebagai pengrajin perak sebelum merantau ke Jakarta dan berkarier di bidang retail perusahaan asing. Namun panggilan kampung halaman membuatnya kembali ke Yogyakarta.

Tahun 2009 menjadi titik balik hidupnya. Dwiyanto mulai serius menekuni anyaman mendong, potensi lokal yang sejak lama telah ditekuni masyarakat Plembon. Menurutnya, tantangan terbesar saat itu bukan pada keterampilan membuat anyaman, melainkan bagaimana mengembangkan desain dan membuka pasar yang lebih luas.

Pengalaman kerja yang dimilikinya membuat Dwiyanto piawai membaca peluang. Ia mulai memproduksi sajadah mendong yang kemudian menjadi produk unggulan. Pesanan datang dalam jumlah besar, termasuk dari Kementerian Agama untuk kebutuhan musim haji.

“Waktu itu ribuan sajadah dipesan. Dari situ mendong mulai dikenal luas sebagai produk yang unik dan fungsional,” kenangnya.

Tak hanya sajadah, berbagai produk lain seperti dompet, tas, alas gelas, alas piring, hingga sandal mendong mulai diminati pasar. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Yogyakarta, tetapi juga menghiasi pusat oleh-oleh dan kerajinan di Bali.

Seiring meningkatnya permintaan, Dwiyanto menggandeng sekitar 20 pengrajin dan penjahit untuk memenuhi berbagai pesanan. Ia juga mulai menerima permintaan produk berbahan selain mendong seperti enceng gondok, daun pandan, dan pelepah pisang.

Sebagai pelaku UMKM, Dwiyanto turut mendapatkan dukungan dari pemerintah. Penguatan modal pernah diterimanya dari Disperindag Sleman dan Dinas KB Sleman, sementara budidaya tanaman mendong mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian.

Kemampuan dan pengalamannya membuat Dwiyanto kerap dipercaya menjadi narasumber pelatihan anyaman di berbagai kota di Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, ia diundang menjadi narasumber pelatihan di Papua.

“Kalau bicara mendong, saya sudah merasakan jatuh bangunnya,” katanya pelan.

Pandemi Covid-19 menjadi masa paling berat bagi usahanya. Pembatasan aktivitas membuat pesanan menurun drastis. Banyak mitra berhenti memesan, bahkan sebagian pengrajin memilih beralih profesi.

Meski demikian, Dwiyanto tetap bertahan. Hingga kini ia masih menerima pesanan rutin sandal hotel, walau jumlahnya belum kembali seperti sebelum pandemi.

“Yang penting saya tetap jalan. Saya ingin kerajinan mendong ini tetap ada,” ucapnya.

Namun di balik keteguhannya, tersimpan kegelisahan yang belum terjawab. Menurut Dwiyanto, minat generasi muda terhadap kerajinan mendong semakin berkurang. Padahal, ia mengaku siap menularkan ilmu dan pengalamannya kepada siapa saja yang ingin belajar.

“Saya khawatir suatu saat mendong benar-benar hilang dari Plembon karena tidak ada yang meneruskan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kegundahan itu terasa begitu dalam. Dwiyanto masih mengingat masa kejayaan anyaman mendong yang pernah membawanya tampil di televisi nasional seperti Indosiar dan TVRI Yogyakarta dalam program Dialog Sembada. Kini, yang ia rindukan bukan lagi popularitas ataupun banyaknya pesanan, melainkan hadirnya generasi muda yang mau menjaga warisan budaya desanya sendiri.

 *"Saya hanya ingin ada anak muda yang mau meneruskan kerajinan ini”* 

Bagi Dwiyanto, anyaman mendong bukan hanya produk kerajinan. Ia adalah identitas, sejarah, dan napas kehidupan masyarakat Plembon yang tak boleh hilang ditelan zaman. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)