BARTAKUM IMAN Bangkit Lagi, Generasi Muda Disiapkan Jadi Garda Baru Pengelolaan Sampah di Margoluwih
- Jun 14, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Padukuhan Barak II, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan kembali menggeliat dalam gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. KPSM BARTAKUM IMAN yang merupakan singkatan dari Barak Tanpa Kumuh, Indah, Nyaman mulai membangun semangat baru setelah hampir 10 tahun menjalankan program sedekah sampah yang sempat mengalami pasang surut, terutama pasca pandemi Covid-19.
Program sedekah sampah yang dulu menjadi salah satu andalan Kalurahan Margoluwih itu kini menghadapi tantangan regenerasi pengurus. Sebagian besar pengurus lama sudah lanjut usia dan jumlah penggeraknya semakin sedikit. Kondisi inilah yang mendorong pemerintah kalurahan memberikan perhatian khusus melalui kegiatan pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah.
Kegiatan pembinaan dilaksanakan pada Sabtu (13/6/2026) di serambi Masjid Al Mubarok Barak II dengan menghadirkan pengurus KPSM BARTAKUM IMAN, ibu-ibu PKK, kader, tokoh pemuda, serta tokoh masyarakat. Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan yang difasilitasi langsung oleh Ulu-Ulu Margoluwih, Sutikno.
Dalam sambutannya, Sutikno menegaskan bahwa persoalan sampah akan terus menjadi tantangan bersama sehingga membutuhkan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kalurahan secara khusus mengalokasikan dana pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah karena sampai kapanpun sampah akan menjadi masalah, sebab kita semua adalah produsen sampah. Terlebih sekarang ini masih banyak terjadi pembuangan sampah liar, termasuk di wilayah Margoluwih,” ujar Sutikno.
Menurutnya, pembinaan ini tidak hanya bertujuan menghidupkan kembali aktivitas sedekah sampah, tetapi juga menjadi momentum penyegaran organisasi dengan melibatkan generasi muda sebagai calon pengurus baru.
Materi pembinaan disampaikan oleh Sutarto Agus Raharjo, praktisi pengelolaan sampah sekaligus Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan. Dalam paparannya, Sutarto mengajak masyarakat untuk mulai serius menerapkan pengurangan dan penanganan sampah dari rumah tangga.
“Pengelolaan sampah paling efektif dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Minimal masyarakat bisa memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang,” jelas Sutarto.
Ia juga menekankan pentingnya gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai budaya sehari-hari. Salah satu contoh sederhana yang terus ia dorong adalah membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik dari luar rumah.
Selain itu, Sutarto memperkenalkan berbagai teknologi tepat guna untuk pengolahan sampah organik seperti metode jugangan, biopori, losida, biopot, hingga komposter rumah tangga. Menurutnya, teknologi tersebut murah, mudah dibuat, dan bisa diterapkan oleh masyarakat secara mandiri.
Untuk pengelolaan sampah plastik, khususnya botol plastik, Sutarto mengenalkan konsep Rumah Pilah Sampah atau “Rumpi-ah” sebagai sistem pengelolaan yang lebih tertata. Ia juga mendorong penggunaan aplikasi berbasis web Siosestu (Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu) untuk mendata aktivitas pengelolaan sampah secara digital.
“Pendataan berbasis digital membutuhkan keterlibatan generasi muda. Karena itu, sedekah sampah perlu merekrut anak-anak muda agar gerakan ini bisa terus berlanjut,” tambahnya.
Melalui pembinaan ini, KPSM BARTAKUM IMAN diharapkan kembali menjadi motor penggerak kebersihan lingkungan sekaligus contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayah Margoluwih. Dengan semangat baru dan dukungan generasi muda, gerakan sedekah sampah di Barak II diharapkan mampu bangkit dan berkembang lebih kuat di masa mendatang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)