Pokja IV PKK Margomulyo Dorong Keterlibatan Generasi Muda Dalam Pengelolaan Sampah di Padukuhan

  • May 11, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Peran Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) dinilai semakin strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Melalui edukasi dan pendampingan langsung, P3S hadir sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dengan praktik pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog pengelolaan sampah bersama Pokja IV PKK Kalurahan Margomulyo yang digelar di Gedung Serbaguna, Minggu (10/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 anggota Pokja IV PKK dari 13 padukuhan di wilayah Kalurahan Margomulyo.

Ibu Lurah Margomulyo sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK, Sri Lestari, secara khusus meminta agar materi pengelolaan sampah rumah tangga menjadi fokus utama dalam kegiatan tersebut. Narasumber kegiatan, Sutarto Agus, menekankan pentingnya pembentukan kelembagaan pengelolaan sampah yang solid dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Dalam paparannya, Sutarto menjelaskan bahwa keberadaan P3S di setiap kalurahan telah memiliki dasar hukum melalui SK Kepala DLH Kabupaten Sleman Nomor 23/Kep.Ka.DLH/2026.

“P3S hadir bukan hanya untuk menyampaikan aturan, tetapi mendampingi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Sutarto.

Ia mengatakan, tugas utama P3S meliputi edukasi, pendampingan, hingga penguatan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, pola pikir masyarakat harus diubah dari sekadar membuang sampah menjadi memilah, mengurangi, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.

Selain memberikan sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik, P3S juga melakukan pelatihan teknis seperti pembuatan kompos serta pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah, sedekah sampah, dan metode daur ulang lainnya.

“Partisipasi warga menjadi kunci utama. Jika pengelolaan sampah dilakukan dari lingkungan masing-masing, maka beban sampah menuju TPST bisa ditekan secara signifikan,” katanya.

Margomulyo sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang cukup lengkap dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah. Di wilayah tersebut terdapat TPS3R, Depo Transfer Sampah, serta sedikitnya delapan bank sampah dan sedekah sampah yang berdiri atas inisiatif warga.

Namun, seiring berjalannya waktu, sejumlah fasilitas dan kelembagaan pengelolaan sampah mengalami penurunan aktivitas bahkan tidak lagi berjalan optimal. Banyak Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) yang vakum, minim keterlibatan generasi muda, serta rendahnya minat masyarakat terhadap bank sampah menjadi tantangan yang kini dihadapi Kalurahan Margomulyo.

Kondisi tersebut mendorong Pokja IV PKK untuk melakukan penyegaran kelembagaan dengan melibatkan pengurus dari kalangan muda agar pengelolaan sampah lebih inovatif dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Sutarto juga meminta dukungan penuh dari pemerintah kalurahan untuk memperkuat efektivitas pengelolaan sampah. Dukungan yang diharapkan meliputi perubahan kepengurusan KPSM dengan melibatkan generasi muda, penguatan program kerja tim P3S, hingga monitoring dan evaluasi sarana prasarana hibah dari DLH.

Peserta dialog juga diajak mencermati hasil pemetaan KPSM di 13 padukuhan. Hasil pemetaan menunjukkan masih ada sejumlah wilayah yang belum memiliki KPSM aktif sehingga membutuhkan strategi pendampingan dan pembentukan kelembagaan baru.

Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan pengelolaan sampah turut mencuat. Mulai dari minimnya dukungan RT/RW dan kalurahan, rendahnya antusiasme masyarakat terhadap bank sampah, belum optimalnya pemilahan sampah rumah tangga, hingga masih maraknya praktik pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan.

“Tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat,” pungkas Sutarto.

Melalui penguatan peran KPSM dan pendampingan P3S, masyarakat diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)