Bangun Mental Mandiri, KPM PKH Seyegan Siap Graduasi dan Tinggalkan Ketergantungan Bansos
- Apr 24, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Graduasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Semester I Tahun 2026 di Kapanewon Seyegan, Kamis (23/4/2026), tidak sekadar menjadi agenda administratif. Lebih dari itu, kegiatan ini menekankan pentingnya kesiapan mental sebagai kunci utama dalam menghadapi transisi dari penerima bantuan sosial menuju kemandirian ekonomi.
Bertempat di Ruang Nakula Aula Lantai II Kapanewon Seyegan, kegiatan ini menghadirkan narasumber seorang motivator sekaligus seorang ustadz dari KUA Seyegan. Sebanyak 40 KPM diundang setelah dinilai layak oleh pendamping PKH untuk melepas kepesertaan bansos, berdasarkan peningkatan kondisi ekonomi dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
Penekanan utama dalam kegiatan ini adalah perubahan pola pikir.
“Graduasi bukan sekadar berhenti menerima bantuan, tetapi perubahan mindset dari menerima menjadi memberdayakan diri,” jelas Agung Fitrianto, S.Kom, koordinator Pendamping PKH Kapanewon Seyegan disela sela acara graduasi.
Para peserta diajak memahami bahwa bantuan sosial bukanlah sumber penghasilan tetap, melainkan stimulus untuk bangkit.
“Bansos itu bersifat sementara, tujuannya untuk memancing potensi, bukan untuk selamanya diandalkan,” tegas Agung
Selain itu, keberanian keluar dari zona nyaman menjadi tantangan tersendiri bagi KPM.
“Graduasi mandiri membutuhkan keberanian untuk meninggalkan ketergantungan dan memulai usaha secara mandiri,” tegas Agung
Motivator dari KUA Seyegan, Suciono, memberikan penguatan dari sisi mental dan spiritual.
“Keputusan untuk graduasi mandiri adalah bentuk rasa syukur atas kemampuan yang telah diberikan Allah SWT,” ujarnya.
Ia juga menekankan dimensi sosial dari keputusan tersebut.
“Dengan graduasi, Anda memberi ruang bagi keluarga lain yang lebih membutuhkan untuk merasakan bantuan,” tambahnya.
Dalam sesi motivasi, peserta juga didorong membangun kepercayaan diri dan ketahanan mental agar tidak kembali bergantung pada bantuan sosial. Kemandirian dipandang sebagai proses berkelanjutan melalui peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha.
Hasilnya, dari 40 KPM yang diundang, sebanyak 31 KPM menyatakan siap untuk graduasi mandiri. Sementara 9 lainnya masih dalam tahap konsultasi keluarga, meski telah mengambil surat pernyataan graduasi.
Kegiatan ini menegaskan bahwa graduasi bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih produktif dan sejahtera. Dengan mental yang kuat dan pola pikir yang tepat, para KPM diharapkan mampu bertransformasi dari penerima bantuan menjadi pemberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)