Pemilahan Sampah di Sumbernya, Kunci Sukses Sleman Tuntas Sampah 2029

  • Apr 21, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Upaya mewujudkan target Sleman Tuntas Sampah 2029 kembali ditegaskan melalui penguatan peran pendamping di lapangan. Hal ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon yang digelar di Ruang Kalpataru Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Senin (20/4/2026).

Rakor tersebut menghadirkan P3S dari 17 kapanewon dan dipimpin langsung oleh Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH, Fitasari Ayu Wardani, didampingi Koordinator Pendamping Kapanewon, Sutarno. Fokus utama pembahasan adalah strategi percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber atau rumah tangga.

Dalam paparannya, Fitasari menegaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.
 “Pemilahan sampah di sumbernya menjadi kunci utama. Tanpa itu, target Sleman Tuntas Sampah 2029 akan sulit tercapai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, terdapat tiga tujuan utama dalam penguatan P3S, yakni pembentukan 1.212 Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dengan konsep satu padukuhan satu KPSM, pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga, serta pemanfaatan sistem SIOSESTU sebagai platform monitoring dan pelaporan. 
“KPSM ini bisa berbentuk bank sampah, sedekah sampah, atau TPS3R, yang penting aktif dan terdaftar,” tambahnya.

Fitasari juga menekankan pentingnya peran pendamping dalam memastikan kelembagaan dan administrasi KPSM berjalan optimal. 
“Pendamping harus memastikan KPSM terbentuk, aktif, memiliki SK, dan sudah terdaftar dalam SIOSESTU,” jelasnya.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian krusial dalam pendampingan. Materi yang disampaikan mencakup Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terkait kelembagaan KPSM serta perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah rumah tangga. 
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau memilah sampah dan mengolah sampah organik dari rumah masing-masing,” tegas Fitasari.

Dalam rakor tersebut juga diingatkan bahwa kegiatan sosialisasi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kapanewon, kalurahan, padukuhan, hingga forum lingkungan dan stakeholder terkait. DLH bersama P3S kapanewon akan bertindak sebagai narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Fitasari turut menggarisbawahi sejumlah materi penting yang wajib disampaikan dalam sosialisasi, seperti kinerja pengelolaan sampah, komposisi sampah, permasalahan di lapangan, hingga rendahnya partisipasi masyarakat. 
“Akar masalah kita jelas, masih kurangnya kesadaran warga untuk memilah dan mengolah sampah, serta minimnya pemahaman bahaya membakar sampah plastik,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa pelibatan generasi muda menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung program ini. “Dukungan wilayah, terutama dalam melibatkan pemuda, sangat dibutuhkan agar gerakan ini bisa berkelanjutan,” katanya.

Di akhir kegiatan, Fitasari mengingatkan bahwa DLH akan terus melakukan monitoring dan evaluasi selama proses pendampingan berlangsung. 
“Kami tidak hanya mendorong, tetapi juga memastikan melalui monitoring dan evaluasi agar program ini berjalan sesuai target,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)