Kembangkan Budidaya Jamur Lingzhi, Jamal Farm Jadi Rujukan Polbangtan DIY
- Apr 20, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat berbasis herbal, budidaya jamur lingzhi (Ganoderma lucidum) kian dilirik sebagai peluang agribisnis bernilai tinggi. Hal ini dibuktikan oleh keberhasilan Jamal Farming di Barak 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DIY, yang mendirikan Cendawan Jamur Jogya sebagai rumah produksi yang kini tak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga pusat edukasi dan rujukan pembelajaran.
Mengusung sistem budidaya modern, Jamal Farming mengembangkan jamur lingzhi dengan metode tumpuk di dalam kumbung bersuhu hangat sekitar 30°C dan kelembapan 70–80%. Sistem ini terbukti efektif menghasilkan panen optimal meski setiap baglog hanya dipanen satu kali.
Keberhasilan tersebut menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta. Empat mahasiswi dari jurusan Agribisnis Hortikultura Biofarmaka menjalani program magang untuk mempelajari langsung praktik budidaya hingga manajemen usaha.
“Kami melihat Jamal Farm sebagai tempat belajar yang lengkap, karena tidak hanya fokus pada produksi tetapi juga manajemen usaha dan pemasaran,” ujar Ananda Putri, salah satu Mahasiswi Polbangtan yang ditemui disela kegiatan magang di Jamal Farm, Sabtu (18/4/2026).

Hal senada disampaikan Amanda Mutiara yang menilai kemitraan antara kampus dan dunia usaha menjadi bekal penting bagi mahasiswa.
“Kerja sama dengan pelaku industri seperti ini memberi kami pengalaman nyata dalam membangun jiwa wirausaha di bidang pertanian,” katanya.
Program Agribisnis Hortikultura Biofarmaka sendiri merupakan bidang strategis yang mengintegrasikan budidaya, pengolahan, hingga pemasaran tanaman obat. Lingzhi menjadi salah satu komoditas unggulan karena manfaat kesehatannya yang tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat.
Di Jamal Farm, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teknik budidaya, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai prospek bisnis dan tren pasar biofarmaka. Hal ini sejalan dengan transformasi pendidikan di Polbangtan yang berada di bawah Kementerian Pertanian dalam mencetak petani milenial yang adaptif terhadap teknologi. Program magang Mahasiswa Polbangtan DIY sendiri akan berlangsung selama 4 bulan
“Permintaan pasar terhadap tanaman biofarmaka sangat tinggi, terutama karena tren back to nature yang semakin kuat di masyarakat,” ungkap Amanda.
Selain itu, nilai ekonomis tanaman biofarmaka juga menjadi daya tarik tersendiri. Komoditas seperti lingzhi, jahe, dan kunyit tidak hanya digunakan sebagai bahan herbal, tetapi juga menjadi bahan baku industri kesehatan dan kosmetik.
“Ini peluang besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian modern yang tidak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat,” tambah Ananda.
Dengan pendekatan teknologi dan sistem agribisnis terpadu, Jamal Farming telah membuktikan bahwa sektor pertanian, khususnya biofarmaka, mampu menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Tak heran jika kini tempat ini menjadi rujukan penting, termasuk bagi institusi pendidikan seperti Polbangtan DIY dalam mencetak wirausahawan pertanian masa depan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)