Mengeja Sastra, Tiga Sanggar Sleman Kobarkan Semangat Menulis Tanpa Henti Bagi Penulis Pemula
- Apr 20, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Tiga sanggar sastra berkolaborasi memfasilitasi proses kreatif penulisan cerita pendek (cerpen) dalam kegiatan bertajuk “Mengeja Sastra” yang digelar di Kafe Ndi Kopine, Benteng, Bligo, Ngluwar, Magelang, Minggu (19/4/2026). Kegiatan ini melibatkan Sanggar Maton (Sleman), Omah Luweng Ijo (Magelang), dan Semak Kata (Sleman), serta diikuti oleh sekitar 20 penggiat sastra dari Sleman, Kota Yogyakarta, dan sebagian kecil dari Magelang.
Acara yang dikemas dalam format bincang santai ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ninuk Retno Raras dan Herry Mardiyanto, yang dikenal sebagai penulis aktif dengan karya yang telah terbit di berbagai media. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar bagi penulis pemula untuk memahami proses kreatif dalam menulis cerpen, mulai dari menemukan ide hingga menyusun struktur cerita.
Penanggung jawab kegiatan, Agus Suprihono, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bekal awal bagi para penulis. “Kegiatan ini harapannya dapat diambil manfaatnya oleh penulis pemula untuk bekal dalam menciptakan karya sastra,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemantikan dalam penulisan cerpen merupakan proses untuk memicu imajinasi agar ide dapat muncul secara alami.
Menurut Agus, sumber ide bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar.
“Dari percakapan orang asing di kafe, kejadian unik di jalan, atau perilaku orang-orang di tempat umum, semuanya bisa menjadi cerita,” tambahnya.

Ninuk Retno Raras turut membagikan pengalamannya yang telah menulis cerpen sejak 1979. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman pribadi sering menjadi titik awal dalam berkarya.
“Mengangkat pengalaman hidup sendiri yang emosional atau menarik, lalu menambahkannya dengan bumbu fiksi, itu yang saya lakukan di awal menjadi penulis,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membaca sebagai referensi untuk memperkaya gaya bahasa dan tema tulisan.
Sementara itu, Herry Mardiyanto memberikan panduan teknis mengenai langkah awal menulis cerpen sebagai bagian dari proses kreatif. Ia menjelaskan bahwa setelah menemukan ide, penulis perlu menentukan tema dan pesan cerita agar tetap fokus.
“Cukup gunakan dua sampai empat tokoh agar cerita tetap padat dan tidak melebar,” jelasnya.
Herry juga menekankan pentingnya membangun konflik yang kuat serta latar yang spesifik untuk menciptakan suasana cerita. Dalam sesi tersebut, muncul jargon yang menjadi semangat bersama, yakni “Menulis Tanpa Henti” atau freewriting, yang mengajak peserta untuk terus menulis tanpa takut salah.
Di akhir kegiatan, Herry mengingatkan peserta agar tidak terlalu memaksakan banyak alur dalam satu cerpen. Ia menegaskan bahwa fokus pada satu momen krusial akan membuat cerita lebih kuat dan berkesan. Kegiatan pun ditutup dengan diskusi interaktif yang memperkaya wawasan peserta dalam dunia kepenulisan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)