Panti Asuhan Daarut Taqwa Minggir: Dari Empat Anak Korban Gempa, Tumbuh Menjadi Rumah Harapan 124 Jiwa

  • Apr 16, 2026
  • KIM Margo Raras

SEYEGAN - Gedung megah berlantai tiga bercat putih itu berdiri kokoh di Padukuhan Jarakan, Kalurahan Sendang Rejo, Kapanewon Minggir, Sleman. Namun lebih dari sekadar bangunan fisik, Panti Asuhan Daarut Taqwa Ihsaniyya adalah saksi bisu perjalanan panjang dakwah sosial yang penuh keikhlasan, kerja keras, dan kepedulian tanpa batas.

Didirikan oleh  mahasiswa dari lintas Universitas  antara lain STIKES Aisyiah (Sekarang UNiSA), UMY,  UAD, UIN,  UII  UGM dan Alumni pesantren Mahasiswa At- Taqwa Suronatan yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Attaqwa (ELDATA) yg bermarkas di Suronatan Ngampilan Yogyakarta.

Mahasiswa mahasiswi yang datang dari berbagai propinsi  untuk kuliah di Jogjakarta tapi memiliki jiwa jiwa sosial untuk mendirikan panti asuhan dibawah pembinaan Ust Syukri Fadholi dan Ustad Khaedar Waluyo

Pendiri sekaligus guru dan pamong panti ustadz Romi Pelani, ustadzah  Elly Handayani,  Ustadzah Fitri, dr. Veby, bpk  Ryan hartopo, ibu Nur Akhlia. Ust Tyan, Ustadzah Endah, Ustad Najar dan Ustadzah Lida. Yang didampingi oleh  pengasuh bu Eri wahyuningsih, Bu ais, Bu Tatik  dan beberapa pengasuh lainnya. dengan semangat kemanusiaan yang tinggi, panti ini kini menjadi rumah bagi 124 anak dari berbagai daerah di Indonesia—mulai dari  Jogjakarta, Magelang, Kebumen, Banjarnegara, Pekalongan, Tegal, Pemalang, Bengkulu, NTT, hingga Papua.

Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun dipersatukan dalam satu tujuan: meraih masa depan yang lebih baik.

“Awalnya Daarut Taqwa hanya memiliki empat anak asuh, mereka adalah korban gempa Yogyakarta tahun 2006,” tutur Ibu Nur Akhlia. Dari langkah kecil itulah perjalanan panjang dimulai.

Perjuangan tidak selalu mudah. Panti ini sempat berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya menetap di tanah wakaf  dari Alm. Bapak Subagyo di wilayah Jarakan pada tahun 2008. Seiring waktu, lembaga ini terus berkembang.
“Daarut Taqwa pernah beberapa kali berpindah lokasi sebelum akhirnya mendapatkan tempat yang lebih tetap di sini,” ungkapnya.

Transformasi pun terjadi. Dari yang semula bernama Lembaga Dakwah At Taqwa, pada tahun 2010 resmi menjadi Yayasan Daarut Taqwa Ihsaniyya. Puncaknya, gedung panti yang berdiri saat ini diresmikan pada 15 Januari 2023, hasil dari amal jariyah jamaah masyarakat Singapura. 
“Gedung ini adalah bukti nyata kepedulian banyak pihak yang ingin melihat anak-anak ini memiliki tempat yang layak,” jelasnya.

Tak hanya menyediakan tempat tinggal, Daarut Taqwa juga mengembangkan pendidikan dari kelompok bermain, RA, SD, SMP, dan SMA.  yg dirintis oleh ustadzah Sri Martini Mutmainnah, S.pd. beserta tim. Bahkan, untuk anak berkebutuhan khusus, yayasan bekerja sama dengan SLB Minggir agar mereka mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai.

Menariknya, panti ini juga memiliki unit usaha mandiri seperti air minum isi ulang, konveksi, kios Jilbab , les baca tulis AHE, Pendopo Quran (Tahsin Metode UMMI),  budidaya ternak kambing dan juga klinik herbal serta spa baby yg sedang mulai dirintis. Para siswa dilibatkan langsung sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kemandirian. 
“Anak-anak kami ajarkan untuk mandiri, termasuk dengan ikut merawat ternak sepulang sekolah,” tambahnya.

Dukungan masyarakat dan orang tua siswa juga menjadi kekuatan besar. Dari donasi yang terkumpul, yayasan mampu menyediakan mobil ambulans dan pick-up untuk menunjang aktivitas anak-anak. Selain itu, kerja sama dengan fasilitas kesehatan seperti RSUP Sardjito, RSUD Sleman, Puskesmas Minggir, klinik D  Maryam, klinik gigi drg. Mira semakin memperkuat layanan yang diberikan.

Tak berhenti di internal panti, Daarut Taqwa juga memiliki anak asuh non asrama  dengan memberikan santunan kepada mereka.  puluhan anak kurang mampu dalam bentuk uang, beras, dan sembako.

Di tengah segala keterbatasan, Panti Asuhan Daarut Taqwa Minggir terus berdiri sebagai simbol harapan—bahwa kepedulian kecil, jika dirawat bersama, mampu tumbuh menjadi kekuatan besar yang mengubah banyak kehidupan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)