Anyaman Bambu Banjaran Minggir Menjaga Tradisi, Menembus Internasional
- Jun 28, 2026
- KIM Margo Raras
MINGGIR - Dusun Brajan mungkin hanya sebuah dusun kecil di Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman. Namun dari tempat yang sederhana inilah lahir karya-karya anyaman bambu yang telah menembus pasar internasional. Produk ramah lingkungan hasil tangan para perajin Brajan kini telah menghiasi rumah, hotel, hingga kafe di berbagai negara seperti Malaysia, Belanda, Australia, dan Dubai.
Tak berlebihan jika Brajan dikenal sebagai sentra kerajinan bambu sekaligus desa wisata edukatif. Sekitar 90 persen warganya menggantungkan hidup sebagai perajin bambu. Beragam produk dihasilkan, mulai dari besek, wakul, tempat tisu, tempat koran, keranjang, kap lampu, hingga ratusan jenis anyaman dekoratif yang memiliki nilai seni tinggi.
Perjalanan kerajinan bambu Brajan dimulai dari produk-produk sederhana seperti besek dan cething atau tempat nasi. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan pasar, kreativitas para perajin berkembang pesat. Kini lebih dari 200 jenis produk berhasil diciptakan dengan tetap mempertahankan sentuhan tradisional.
Sejak diresmikan sebagai Desa Wisata Kerajinan Bambu pada 2006, Brajan tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga ruang belajar bagi wisatawan. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan anyaman, bahkan mencoba menganyam bambu bersama para perajin lokal.
Di balik keberhasilan tersebut, ada sosok generasi muda yang memilih tetap bertahan melestarikan warisan keluarga. Ia adalah Wahyu Dinanta, penerus Kios Kerajinan Bambu "Sunar". Sejak masih duduk di bangku sekolah, Wahyu telah terbiasa membantu kedua orang tuanya membuat sekaligus menjual kerajinan bambu.
Kini rumah yang juga menjadi kios kerajinan di RT 02 RW 17 itu menjadi salah satu pusat kerajinan bambu terbesar di Dusun Brajan. Bukan hanya menjual produknya sendiri, Wahyu juga menjadi pengepul bagi sekitar 20 perajin rumahan. Ia menyediakan bahan baku bambu apus dari Kulon Progo, mendistribusikannya kepada para perajin sesuai pesanan, lalu menangani proses bleaching dan quality control sebelum produk dipasarkan. Bersama istrinya, Wahyu juga memanfaatkan pemasaran digital sehingga pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah.
Namun mempertahankan kerajinan tradisional di tengah gempuran produk modern bukan perkara mudah. Tantangan lain datang dari minimnya pendampingan serta regenerasi perajin.
Saat mengenang dukungan pemerintah beberapa tahun lalu, Wahyu mengaku kondisi kini sudah jauh berbeda.
"Kalau sekarang sudah tidak pernah lagi ada pembinaan. Dulu kami sering mendapat pelatihan, sarasehan, sampai dipercaya menjadi narasumber berbagai kegiatan tentang kerajinan bambu. Sekarang justru pendampingan lebih sering datang dari mahasiswa KKN yang membantu pemasaran secara online," ujar Wahyu.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Musim penghujan membuat proses pengeringan bambu tidak maksimal sehingga memengaruhi kualitas dan daya tahan produk. Meski demikian, permintaan pasar tetap tinggi, terutama untuk produk kap lampu yang banyak digunakan sebagai dekorasi hotel, restoran, dan kafe di berbagai daerah.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wahyu tetap optimistis masa depan kerajinan bambu Brajan akan terus bersinar. Baginya, mempertahankan tradisi bukan sekadar menjaga usaha keluarga, tetapi juga menjaga identitas dusun yang telah dikenal hingga mancanegara.
"Harapan saya, Dusun Brajan semakin berkembang sebagai desa wisata. Orang datang tidak hanya membeli oleh-oleh, tetapi juga belajar membuat kerajinan bambu. Yang paling penting, regenerasi pengrajin jangan sampai terputus," tuturnya.
Semangat itulah yang terus menghidupkan Dusun Brajan. Dari tangan-tangan terampil para perajinnya, bambu tak sekadar menjadi anyaman, melainkan simbol ketekunan, kreativitas, sekaligus bukti bahwa karya dari sebuah dusun kecil mampu berbicara di panggung dunia..Di tengah derasnya arus produk modern, para perajin Dusun Brajan membuktikan bahwa karya berbahan bambu tetap memiliki tempat di pasar dunia. Kini, harapan terbesar mereka bukan sekadar menjaga kualitas, melainkan memastikan estafet keterampilan tak berhenti di generasi berikutnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)