"Sampahmu Cerminan Dirimu", Cara Fitasari Mengubah Krisis Sampah Sleman Menjadi Gerakan Bersama
- Jun 29, 2026
- KIM Margo Raras
SLEMAN - "Menekan penggunaan dan pembuangan botol plastik sekali pakai yang sulit terurai di ruang publik dan perkantoran sekaligus memastikan sampah dikelola secara tertib dan bernilai guna." Kalimat itu diucapkan Fitasari Ayu Wardani, ST, MPA, dengan nada tenang namun penuh keyakinan. Bagi perempuan muda yang kini memimpin Tim Kerja Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman itu, mengelola sampah bukan sekadar urusan membersihkan lingkungan, melainkan membangun peradaban.
Ungkapan "Sampahmu cermin dirimu" mungkin terdengar seperti slogan kebersihan yang biasa kita dengar. Namun di tangan Fitasari, kalimat itu menjadi filosofi kerja. Cara seseorang memperlakukan sampah, menurutnya, mencerminkan bagaimana ia menghargai lingkungan, sesama manusia, bahkan masa depan generasi berikutnya.
Di ruang kerjanya, sosok ibu tiga anak ini memancarkan energi yang tak pernah habis. Meski baru dua tahun bergabung di DLH Kabupaten Sleman, jejak inovasinya sudah terasa nyata.
Salah satu gebrakannya adalah Rumpi-ah (Rumah Pilah Sampah), sebuah fasilitas yang dirancang khusus untuk mengumpulkan dan memilah botol plastik sekali pakai sebelum didaur ulang. Program ini hadir sebagai jawaban atas persoalan plastik yang selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah.
Namun langkah Fitasari tidak berhenti di situ. Ia juga menggagas Teratai (Terpilah Rapi Tambah Nilai Integrasi) dan Kopiah (Kotak Pilah Sampah), dua inovasi yang memperkuat budaya memilah sampah sejak dari sumbernya.
Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil.
"Menekan penggunaan dan pembuangan botol plastik sekali pakai yang sulit terurai di ruang publik dan perkantoran sekaligus memastikan sampah dikelola secara tertib dan bernilai guna," ujarnya ketika menjelaskan tujuan utama Rumpi-ah.
Perjalanan karier Fitasari (42) memang tidak singkat. Alumni Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada ini kemudian melanjutkan pendidikan magister di Ritsumaiken University Jepang. Sebelum bertugas di Sleman pada 2024, ia mengabdi selama sebelas tahun di Dinas Lingkungan Hidup Kota Magelang, kemudian melanjutkan pengabdian selama tiga tahun di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Magelang sebelum kembali ke bidang yang menjadi panggilan hatinya: pengelolaan lingkungan dengan mengabdi di DLH Sleman.
Sentuhan teknologi juga menjadi bagian penting dari pendekatan yang ia bangun. Fitasari memperkenalkan SIOSESTU (Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu), platform digital berbasis web yang dirancang untuk memodernisasi administrasi sekaligus mempercepat terwujudnya target "Sleman Tuntas Sampah."
Baginya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah lebih banyak atau membangun tempat pembuangan baru. Yang jauh lebih penting adalah mengubah perilaku masyarakat.
Karena itulah ia membentuk Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) di tingkat kalurahan, kapanewon, hingga kawasan. Kehadiran para pendamping ini menjadi ujung tombak edukasi sekaligus penguatan kelembagaan masyarakat agar pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.
Fitasari menyadari, penyuluhan semata tidak cukup.
Perubahan membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Masyarakat perlu diajak, didampingi, dan diyakinkan bahwa memilah sampah bukan beban tambahan, melainkan investasi untuk masa depan lingkungan.
Di balik berbagai inovasi tersebut, Fitasari juga meyakini bahwa pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Pengelolaan sampah hanya akan berhasil jika seluruh elemen bergerak bersama melalui pendekatan Pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media.
Kolaborasi itulah yang diyakininya mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus mendorong lahirnya ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah produk, melainkan awal dari nilai baru.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tumpukan sampah belum sepenuhnya hilang, perilaku masyarakat pun belum seluruhnya berubah. Namun langkah-langkah kecil yang dibangun Fitasari membuktikan bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk bergerak.
Karena pada akhirnya, sampah bukan hanya persoalan limbah.
Ia adalah cermin.
Dan seperti kata yang terus ia gaungkan, "Sampahmu cermin dirimu." (Sutarto Agus/KIM Seyegan)