Dibalik Lipatan Blangkon Beji, Naryo Menjaga Wrisan Budaya Tetap Hidup

  • Jun 29, 2026
  • KIM Margo Raras

GODEAN - "Kalaupun ada harapan, saya berharap ada penguatan modal untuk pengrajin blangkon dari pemerintah agar kami bisa meningkatkan produksi," ujar Sunaryo atau yang lebih akrab disapa Naryo Blangkon, saat menceritakan perjalanan panjangnya menjaga warisan budaya Jawa dari Dusun Beji.

Bicara tentang blangkon di Sleman, nama Dusun Beji di Padukuhan Tinom, Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean, tak bisa dilewatkan. Dusun ini telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan blangkon yang masih bertahan hingga sekarang. Di tengah derasnya arus modernisasi, belasan pengrajin tetap setia mempertahankan identitas budaya melalui karya yang dikenakan di kepala itu.

Salah satu di antaranya adalah Sunaryo. Pria yang mulai menekuni profesi sebagai pengrajin sejak 2008 ini meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis orang tuanya sejak 1990. Saat itu, pengrajin blangkon di Beji masih bisa dihitung dengan jari, hanya tiga hingga empat orang.

Berawal dari membantu kedua orang tuanya membuat blangkon sejak remaja, kecintaannya terhadap kerajinan tradisional itu tumbuh secara alami. Kini, ia menjadi salah satu pengrajin yang konsisten menjaga kualitas sekaligus eksistensi blangkon khas Yogyakarta.

Saat ini terdapat sekitar 14 pengrajin blangkon di Dusun Beji. Dari jumlah tersebut, sembilan masih aktif memproduksi blangkon, sementara sisanya menjadikan kerajinan ini sebagai pekerjaan sambilan. Dari sembilan pengrajin aktif, hanya empat yang memiliki outlet sendiri, termasuk Naryo yang membuka outlet di rumahnya di Beji RT 06 RW 09.

Dalam menjalankan usahanya, Naryo dibantu dua tenaga pengrajin yang bekerja dari rumah. Pesanan datang dari berbagai daerah melalui toko batik, pemasaran daring, hingga pelanggan tetap. Selama lima tahun terakhir, ia rutin menerima pesanan dari sebuah biro perjalanan umrah dan haji di Jepara yang menjadikan blangkon sebagai identitas jamaah mereka.

Keahliannya memang terletak pada pembuatan blangkon gaya Yogyakarta, khususnya model Mataraman, Senopaten, dan Klewer.

Di ruang kerjanya, Naryo memperlihatkan bagaimana selembar kain batik primisima dipadukan dengan karton, pelapis kain tipis, dacron, dan kain kapas hingga menjadi sebuah blangkon yang kokoh dan nyaman dikenakan. Sebagian besar proses masih dikerjakan secara manual sehingga membutuhkan ketelitian tinggi.

Satu blangkon memerlukan waktu sekitar dua jam untuk diselesaikan. Dalam sehari, Naryo rata-rata mampu membuat tiga blangkon. Harga produknya pun bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk model standar. Sementara pesanan paling istimewa yang pernah ia kerjakan mencapai Rp1 juta per buah karena menggunakan kain batik tulis berkualitas tinggi.

Meski menyadari bahwa pasar blangkon tergolong khusus, mulai dari abdi dalem, pelajar, seniman, wiyaga, hingga komunitas pecinta budaya Jawa—Naryo tetap optimistis masa depan kerajinan ini masih terbuka.

"Dengan pengrajin yang masih ada dan rata-rata usianya masih produktif, saya yakin kerajinan blangkon di Beji masih bisa bertahan," ungkapnya penuh keyakinan.

Optimisme itu juga lahir dari kuatnya solidaritas antar pengrajin. Mereka tergabung dalam Paguyuban Rukun Agawe Santosa, sebuah wadah UMKM kerajinan yang mengedepankan semangat gotong royong. Di dalam paguyuban, para anggota saling membantu memenuhi pesanan. Jika ada permintaan dalam jumlah besar, pekerjaan dibagi bersama sehingga semua anggota memperoleh manfaat.

Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama sentra blangkon Beji. Persaingan tidak dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi justru menjadi ruang untuk tumbuh bersama.

Selama ini, dukungan pemerintah diwujudkan melalui keikutsertaan pengrajin dalam berbagai pameran, baik yang diselenggarakan di hotel maupun dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sleman oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Namun bagi Naryo, tantangan terbesar saat ini adalah penguatan modal agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.

Menariknya, hasil karya dari Dusun Beji kini tidak hanya dikenakan di tanah Jawa. Blangkon buatan Naryo telah menembus Belanda, digunakan oleh sebuah restoran milik warga Indonesia yang memilih pakaian adat Jawa sebagai identitas para karyawannya.

Dari sebuah dusun kecil di Godean, selembar blangkon tak sekadar menjadi penutup kepala. Ia menjelma menjadi simbol ketekunan, kebersamaan, dan upaya tanpa henti menjaga warisan budaya agar tetap dikenal, dikenakan, dan dihargai hingga ke mancanegara. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)