Jelang Iduladha, MUI Depok Sleman Ingatkan Pentingnya Hidup Seimbang
- May 23, 2026
- KIM Margo Raras
SEYEGAN - Komisi Pemuda, Seni, dan Budaya MUI Depok Sleman mengajak umat Islam menata kehidupan secara seimbang antara urusan dunia dan bekal akhirat. Pesan tersebut disampaikan Athiful Khoiri dalam kajian di Masjid Istiqomah, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat (22/5/2026), menjelang momentum Idul Adha 2026.
Athiful mengatakan, salah satu doa yang paling akrab di tengah umat Islam adalah doa sapu jagad: Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. Menurutnya, doa tersebut bukan sekadar permohonan, melainkan pedoman hidup bagi seorang muslim.
“Doa ini mengajarkan bahwa hidup seorang muslim harus seimbang. Kita tidak diperintahkan meninggalkan dunia, tetapi juga tidak boleh tenggelam di dalamnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebaikan dunia yang dimaksud dalam doa itu bukan hanya soal banyaknya harta, tingginya jabatan, atau kemewahan hidup. Kebaikan dunia sejati, kata dia, meliputi rezeki yang halal, hati yang tenang, keluarga yang rukun, tubuh yang sehat, ilmu yang bermanfaat, serta kehidupan yang memberi manfaat bagi sesama.
Menurut Athiful, keberhasilan secara lahiriah belum tentu menjadi kebaikan apabila diraih dengan cara yang tidak benar. Harta yang diperoleh secara haram dapat menjadi beban, jabatan yang diraih dengan menzalimi orang lain dapat berubah menjadi kehinaan, dan ilmu yang melahirkan kesombongan justru menjauhkan manusia dari Allah.
“Dunia yang layak diminta seorang muslim adalah dunia yang penuh keberkahan. Dunia yang mendekatkan diri kepada Allah, bukan dunia yang membuat manusia lalai kepada-Nya,” katanya.
Ia menambahkan, permohonan wa fil-akhirati hasanah menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia memiliki batas. Usia, kesehatan, jabatan, dan kekayaan tidak akan berlangsung selamanya, sedangkan akhirat merupakan tempat kembali yang pasti dan harus dipersiapkan dengan amal saleh.
Karena itu, Athiful mengingatkan jamaah agar tidak menukar keselamatan akhirat dengan keuntungan dunia yang bersifat sementara. Nilai-nilai kejujuran, amanah, dan persaudaraan harus tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun sosial masyarakat.
Menjelang Idul Adha, ia juga mengaitkan makna doa tersebut dengan nilai kurban. Menurutnya, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih ego, keserakahan, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
“Kurban mengajarkan bahwa harta terbaik bukan yang hanya kita simpan, tetapi yang kita ikhlaskan. Rezeki paling berkah bukan yang dinikmati sendiri, tetapi yang menghadirkan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Athiful berharap momentum Idul Adha dapat menjadi sarana memperkuat iman, melembutkan hati, dan memperluas kepedulian sosial di tengah masyarakat. Jamaah yang memiliki kemampuan diajak menyiapkan kurban dengan ikhlas, sementara seluruh umat didorong menghidupkan semangat kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui pesan tersebut, MUI Depok Sleman berharap doa sapu jagad tidak hanya menjadi bacaan lisan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, sehingga kehidupan dunia dapat dijalani dengan penuh keberkahan tanpa melupakan tujuan akhirat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)